Antisipasi Hama dan Penyakit Tanaman Serta Dampak Perubahan Iklim Mentan Gelar Rakor

Selasa, 05 September 2017

Thumbnails
Thumbnails
Thumbnails
Thumbnails

Jakarta, 4 September 2017 Menteri Amran mengelar Rapat Koordinasi yang dihadiri oleh Aster Kasad TNI, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Para Pejabat Eselon 1 lingkup Kementerian Pertanian, Para Kepala Dinas Provinsi dan Kabupaten, para Kepala BPTP dan BPTPH seluruh Indoenesia.  Berdasarkan laporan Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) periode Januari-Agustus 2017, luas serangan WBC Sedang 4.716 ha, Berat 2.025 ha, dan Puso 1.636 ha. Sementara pada Tahun 2016, serangan WBC Sedang 2.058 ha, Berat 224 ha, dan Puso 154 ha. Selanjutnya pada periode yang sama, Januari-Agustus 2017, Luas Kekeringan tahun 2017 yang Terkena 56.334 ha dan Puso 18.516 ha. Sementara 2016 Terkena 66.922 ha dan Puso 7.265 ha.

Berdasarkan rerata 10 tahun terakhir, total luas serangan WBC dan kekeringan adalah Terkena 215.277 ha dan Puso 48.850 ha, jauh lebih tinggi dibandingkan Tahun 2017 yang mencapai: Terkena 63.075 ha dengan Puso 20.152 ha (hanya 0,42% dari total Luas Tanam periode Oktober 2016-Agustus 2017 seluas 15,1 juta ha dari ambang toleransi 5%). Luas puso hanya 2,5% terhadap surplus Luas Tambah Tanam (LTT) Padi Oktober 2016-Agustus 2017 seluas 792.245 ha.

Pengendalian WBC telah dilakukan sejak bulan Januari sampai sekarang di 20 Provinsi, 164 Kabupaten (peta dan foto terlampir) dengan menerjunkan 203 personel pusat, bersinergi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi (Dinas Pertanian Provinsi, BPTPH, dan Koordinator POPT Kabupaten, pemerintah kabupaten/kota) bersama petani dan TNI.

Dalam arahannya Mentan menyampaikan hasil monitoring dan pengendalian WBC di lapangan menunjukkan bahwa ada 5 penyebab utama meningkatnya serangan WBC tahun 2017 antara lain:

  • Terjadinya kemarau basah pada tahun 2016 ditambah periode April-Juni 2017 dengan rerata curah hujan bulanan >200 mm dengan rerata kelembaban udara >90%. Kondisi ini sangat menguntungkan/pemicu bagi perkembangan populasi WBC pada periode April-Juli 2017.
  • Terbatasnya jumlah pengamat dan lambatnya pelaporan populasi WBC (1 POPT : 2-3 kecamatan) sehingga terjadi outbreaks dan puso di beberapa lokasi karena tidak bisa dikendalikan lagi/terbakar.
  • Penanaman varietas rentan WBC seperti Ketan, Menthik Wangi, Menthik Susu, Beras Merah, Pandan Wangi dan varietas lokal lainnya menjadi sumber inokulum berkembangnya populasi WBC.
  • Butir 1-3 diperburuk dengan penggunaan jenis, sasaran, konsentrasi/dosis, mutu, waktu, dan cara aplikasi pestisida yang tidak sesuai dengan anjuran, sehingga memicu resistensi dan resurjensi WBC serta puso.

Dukungan Pemda dalam penyediaan SDM dan sarana pengendalian (alat dan bahan pestisida), yang sangat terbatas menyebabkan terlambatnya penanganan WBC.

Tindak Lanjut yang sudah, sedang, dan akan dilaksanakan:

  • Intensifikasi Gerakan Pengendalian/Gerdal di 20 Provinsi, 164 Kabupaten dan perluasan Gerdal di wilayah potensial WBC lainnya.
  • Penambahan Petani Pengamat OPT swadaya sehingga 1 kecamatan : 1 pengamat
  • Bantuan benih padi varietas tahan/toleran WBC seperti Inpari 31 dan 33 sebanyak 500 ton ditambah bantuan benih sumber dari Badan Litbang Pertanian menggantikan varietas yang rentan terhadap WBC.
  • Penyediaan sarana pengendalian berupa 3 jenis pestisida (buprofezin, BPMC, MIPC) 1 kg atau 1 liter per ha, mist blower dan/atau handsprayer serta didukung budidaya padi yang sehat dalam bentuk Dem Area di 6 Provinsi, 24 Kabupaten/Kota wilayah endemis WBC
  • Bersinergi dengan Korem/Kodim setempat untuk menggerakkan pemerintah kabupaten/kota dalam mengendalikan WBC dengan memaksimalkan pelaporan online melalui sistem informasi perlindungan tanaman pangan (Silintan) dan mengikutsertakan petani dalam program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).

Terkait dengan Kekeringan, upaya mitigasi yang telah, sedang, dan akan kita lakukan meliputi:

  • Pengerukan saluran untuk melokalisir air sehingga dapat di pompa
  • Pembuatan embung
  • Pemanfaatan pompa dari embung kecil
  • Pengembangan padi rawa lebak
  • Pengembangan fero semen di lahan rawa lebak
  • Pembuatan long storage

Google+
Thumbnails
Thumbnails
Thumbnails
Thumbnails

Jakarta, 4 September 2017 Menteri Amran mengelar Rapat Koordinasi yang dihadiri oleh Aster Kasad TNI, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Para Pejabat Eselon 1 lingkup Kementerian Pertanian, Para Kepala Dinas Provinsi dan Kabupaten, para Kepala BPTP dan BPTPH seluruh Indoenesia.  Berdasarkan laporan Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) periode Januari-Agustus 2017, luas serangan WBC Sedang 4.716 ha, Berat 2.025 ha, dan Puso 1.636 ha. Sementara pada Tahun 2016, serangan WBC Sedang 2.058 ha, Berat 224 ha, dan Puso 154 ha. Selanjutnya pada periode yang sama, Januari-Agustus 2017, Luas Kekeringan tahun 2017 yang Terkena 56.334 ha dan Puso 18.516 ha. Sementara 2016 Terkena 66.922 ha dan Puso 7.265 ha.

Berdasarkan rerata 10 tahun terakhir, total luas serangan WBC dan kekeringan adalah Terkena 215.277 ha dan Puso 48.850 ha, jauh lebih tinggi dibandingkan Tahun 2017 yang mencapai: Terkena 63.075 ha dengan Puso 20.152 ha (hanya 0,42% dari total Luas Tanam periode Oktober 2016-Agustus 2017 seluas 15,1 juta ha dari ambang toleransi 5%). Luas puso hanya 2,5% terhadap surplus Luas Tambah Tanam (LTT) Padi Oktober 2016-Agustus 2017 seluas 792.245 ha.

Pengendalian WBC telah dilakukan sejak bulan Januari sampai sekarang di 20 Provinsi, 164 Kabupaten (peta dan foto terlampir) dengan menerjunkan 203 personel pusat, bersinergi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi (Dinas Pertanian Provinsi, BPTPH, dan Koordinator POPT Kabupaten, pemerintah kabupaten/kota) bersama petani dan TNI.

Dalam arahannya Mentan menyampaikan hasil monitoring dan pengendalian WBC di lapangan menunjukkan bahwa ada 5 penyebab utama meningkatnya serangan WBC tahun 2017 antara lain:

  • Terjadinya kemarau basah pada tahun 2016 ditambah periode April-Juni 2017 dengan rerata curah hujan bulanan >200 mm dengan rerata kelembaban udara >90%. Kondisi ini sangat menguntungkan/pemicu bagi perkembangan populasi WBC pada periode April-Juli 2017.
  • Terbatasnya jumlah pengamat dan lambatnya pelaporan populasi WBC (1 POPT : 2-3 kecamatan) sehingga terjadi outbreaks dan puso di beberapa lokasi karena tidak bisa dikendalikan lagi/terbakar.
  • Penanaman varietas rentan WBC seperti Ketan, Menthik Wangi, Menthik Susu, Beras Merah, Pandan Wangi dan varietas lokal lainnya menjadi sumber inokulum berkembangnya populasi WBC.
  • Butir 1-3 diperburuk dengan penggunaan jenis, sasaran, konsentrasi/dosis, mutu, waktu, dan cara aplikasi pestisida yang tidak sesuai dengan anjuran, sehingga memicu resistensi dan resurjensi WBC serta puso.

Dukungan Pemda dalam penyediaan SDM dan sarana pengendalian (alat dan bahan pestisida), yang sangat terbatas menyebabkan terlambatnya penanganan WBC.

Tindak Lanjut yang sudah, sedang, dan akan dilaksanakan:

  • Intensifikasi Gerakan Pengendalian/Gerdal di 20 Provinsi, 164 Kabupaten dan perluasan Gerdal di wilayah potensial WBC lainnya.
  • Penambahan Petani Pengamat OPT swadaya sehingga 1 kecamatan : 1 pengamat
  • Bantuan benih padi varietas tahan/toleran WBC seperti Inpari 31 dan 33 sebanyak 500 ton ditambah bantuan benih sumber dari Badan Litbang Pertanian menggantikan varietas yang rentan terhadap WBC.
  • Penyediaan sarana pengendalian berupa 3 jenis pestisida (buprofezin, BPMC, MIPC) 1 kg atau 1 liter per ha, mist blower dan/atau handsprayer serta didukung budidaya padi yang sehat dalam bentuk Dem Area di 6 Provinsi, 24 Kabupaten/Kota wilayah endemis WBC
  • Bersinergi dengan Korem/Kodim setempat untuk menggerakkan pemerintah kabupaten/kota dalam mengendalikan WBC dengan memaksimalkan pelaporan online melalui sistem informasi perlindungan tanaman pangan (Silintan) dan mengikutsertakan petani dalam program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).

Terkait dengan Kekeringan, upaya mitigasi yang telah, sedang, dan akan kita lakukan meliputi:

  • Pengerukan saluran untuk melokalisir air sehingga dapat di pompa
  • Pembuatan embung
  • Pemanfaatan pompa dari embung kecil
  • Pengembangan padi rawa lebak
  • Pengembangan fero semen di lahan rawa lebak
  • Pembuatan long storage

Google+
berita lain