Dirjen TP: “Rawa dan Tumpang Sari prioritas utama peningkatan produksi pangan tahun 2019”

Jum'at, 11 Januari 2019

Jumat (11-1-2019), Direktur Jenderal Tanaman Pangan Dr. Sumarjo Gatot Irianto menegaskan program pengembangan padi di lahan rawa dan tumpang sari bisa meningkatkan produksi padi nasional. Khususnya padi lahan rawa, Kementerian Pertanian (kementan) berhasil mengembangkan pilot project di wilayah Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan. Untuk tahun 2019 kementan mengalokasikan 500 ribu hektar di provinsi Sumatera Selatan 250 ribu Ha dan Kalimantan Selatan 250 ribu Ha.

“Untuk memenuhi kebutuhan pangan (beras) nasional jika hanya mengandalkan lahan sawah tidak akan cukup, karena itu kami(kementan) mengembangkan penanaman di areal baru lahan kering, gunung, dan rawa” ujar Dirjen TP Jumat siang pada acara Bincang Asik Pertanian di Gedung PIA Kementerian Pertanian. Hal ini sangat beralasan karena Indonesia memiliki potensi rawa untuk pertanian seluas 7,52 juta ha (sumber: BBSDLP 2015) dan 5,12 juta Ha cocok untuk lahan pengembangan tanaman padi.

Untuk mendukung program rawa tersebut kementan menyiapkan alokasi bantuan seperti benih, kapur dolomit, herbisida pra tanam dan pupuk organik, alat-alat pertanian (Combine Harvester,Pompa air dan escavator), bantuan pembuatan jaringan irigasi. “Jika bertani dengan alat modern, ini bisa jadi daya Tarik buat para anak muda, supaya pola pikir malu jadi petani bisa hilang” ungkapnya.

Untuk Tumpang sari tahun 2019 Kementan memiliki strategi untuk meningkatkan produksi Padi, jagung dan kedelai nasional. Pola tumpang sari dilakukankan secara berdampingan seperti Kedelai-Jagung, Kedelai-Padi, Jagung-Padi.

“Program ini diharapkan setiap komoditi bisa hidup berdampingan secara damai” ujar Dirjen Gatot sambil tersenyum. Hal ini sebagai optimalisasi penggunaan lahan yang makin terbatas, dan juga mendorong produksi Padi, Jagung dan kedelai. Kementan menganggarkan Kedelai-Jagung (350 rb ha), Kedelai padi (350rb ha), Jagung-Padi(350 rb ha) Luas lahan 1,05 jt ha atau setara luas pertanaman 2,1 jt ha.

Tujuan program tumpang sari ini antara lain mengurangi persaingan antar komoditas, mengurangi biaya produksi karena dalam 1 lahan bisa terdapat 2 komoditi yang bisa diperoleh dalam sekali musim tanah, mengurangi resiko gagal panen, dan meningkatkan pendapatan petani.

Terakhir Dirjen TP mengharapkan peran dari pemerintah daerah provinsi, kabupaten dan kota untuk dapat mensukseskan program ini, sehingga dapat meningkatkan pendapatan para petani.

Dalam acara Bincang Asik Pertanian tersebut turut hadir Pengamat Pertanian sekaligus Mantan Menteri Siswono Yudohusodo dan Alfito Deannova sebagai moderator.

Google+

Jumat (11-1-2019), Direktur Jenderal Tanaman Pangan Dr. Sumarjo Gatot Irianto menegaskan program pengembangan padi di lahan rawa dan tumpang sari bisa meningkatkan produksi padi nasional. Khususnya padi lahan rawa, Kementerian Pertanian (kementan) berhasil mengembangkan pilot project di wilayah Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan. Untuk tahun 2019 kementan mengalokasikan 500 ribu hektar di provinsi Sumatera Selatan 250 ribu Ha dan Kalimantan Selatan 250 ribu Ha.

“Untuk memenuhi kebutuhan pangan (beras) nasional jika hanya mengandalkan lahan sawah tidak akan cukup, karena itu kami(kementan) mengembangkan penanaman di areal baru lahan kering, gunung, dan rawa” ujar Dirjen TP Jumat siang pada acara Bincang Asik Pertanian di Gedung PIA Kementerian Pertanian. Hal ini sangat beralasan karena Indonesia memiliki potensi rawa untuk pertanian seluas 7,52 juta ha (sumber: BBSDLP 2015) dan 5,12 juta Ha cocok untuk lahan pengembangan tanaman padi.

Untuk mendukung program rawa tersebut kementan menyiapkan alokasi bantuan seperti benih, kapur dolomit, herbisida pra tanam dan pupuk organik, alat-alat pertanian (Combine Harvester,Pompa air dan escavator), bantuan pembuatan jaringan irigasi. “Jika bertani dengan alat modern, ini bisa jadi daya Tarik buat para anak muda, supaya pola pikir malu jadi petani bisa hilang” ungkapnya.

Untuk Tumpang sari tahun 2019 Kementan memiliki strategi untuk meningkatkan produksi Padi, jagung dan kedelai nasional. Pola tumpang sari dilakukankan secara berdampingan seperti Kedelai-Jagung, Kedelai-Padi, Jagung-Padi.

“Program ini diharapkan setiap komoditi bisa hidup berdampingan secara damai” ujar Dirjen Gatot sambil tersenyum. Hal ini sebagai optimalisasi penggunaan lahan yang makin terbatas, dan juga mendorong produksi Padi, Jagung dan kedelai. Kementan menganggarkan Kedelai-Jagung (350 rb ha), Kedelai padi (350rb ha), Jagung-Padi(350 rb ha) Luas lahan 1,05 jt ha atau setara luas pertanaman 2,1 jt ha.

Tujuan program tumpang sari ini antara lain mengurangi persaingan antar komoditas, mengurangi biaya produksi karena dalam 1 lahan bisa terdapat 2 komoditi yang bisa diperoleh dalam sekali musim tanah, mengurangi resiko gagal panen, dan meningkatkan pendapatan petani.

Terakhir Dirjen TP mengharapkan peran dari pemerintah daerah provinsi, kabupaten dan kota untuk dapat mensukseskan program ini, sehingga dapat meningkatkan pendapatan para petani.

Dalam acara Bincang Asik Pertanian tersebut turut hadir Pengamat Pertanian sekaligus Mantan Menteri Siswono Yudohusodo dan Alfito Deannova sebagai moderator.

Google+
berita lain