Kementan Mendorong Pengembangan Jagung Rendah Aflatoksin

Jum'at, 29 Maret 2019

Lombok (28/3), Kementerian Pertanian melalui Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan (PPHTP), Direktorat Jenderal Tanaman Pangan melepas pengiriman perdana jagung rendah aflatoksin (subtitusi impor) dari Koperasi Dinamika Juara Agrobisnis ke PT Greenfields Surabaya dan Ekspor Corn Cobs (janggel jagung) ke Korea Selatan. Pelepasan dilakukan oleh Direktur PPHTP dan Wakil Bupati Lombok Timur.

Direktur PPHTP, Gatut Sumbogodjati dalam sambutannya memaparkan jagung merupakan komoditas strategis utama terpenting setelah padi dan salah satu komoditas tanaman palawija utama di Indonesia yang kegunaannya relatif luas, terutama untuk konsumsi manusia dan kebutuhan bahan pakan ternak.

Menurutnya, agrobisnis jagung memiliki berbagai keuntungan yakni memberikan banyak manfaat, memiliki keunggulan sebagai pakan untuk unggas, dan usaha taninya mudah. Namun, jagung memiliki beberapa permasalahan seperti luas lahan yang terbatas, dan teknologi usaha tani rendah. Jagung memiliki peluang perdagangan antardaerah dan negara dan kebutuhan jagung nasional cukup tinggi dan terus tumbuh.

“Berdasarkan data ARAM I (angka ramalan) produksi jagung Indonesia pada 2018 seberat 30,56 juta ton dengan luas lahan panen 5,73 juta hektare (ha). Alhasil, produktivitas jagung nasional tahun lalu seberat 52,41 kuintal/ha. Dari total Produksi Jagung Nasional tersebut Provinsi Nusa Tenggara Barat pada ARAM I produksinya mencapai 2.058 juta ton dengan luas lahan panen 306.000 ha. Dari total produksi tersebut, untuk kebutuhan pakan peternak dalam negeri dipekirakan 2,92 juta ton per tahun,” papar Gatut di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis, 28 Maret 2019.

Dikatakan Gatut, meningkatnya produksi jagung dalam negeri tersebut membuat petani jagung dalam negeri semakin bergairah dalam melakukan usaha budidaya pertanaman jagung di lapangan. Akan tetapi, lonjakan produksi jagung nasional tenyata masih belum dimbangi dengan peningkatan kualitas/ mutu dari jagung karena kadar aflatoksinnya masih tinggi.

Itu lantaran, lanjut Gatut, untuk memproduksi jagung rendah aflatoksin memerlukan penanganan khusus mulai dari budidaya, penanganan pasca panen sampai distribusi kepada peternak, disamping itu perlu insentif harga yang memadai. Jagung rendah aflatoksin digunakan sebagai bahan pakan sapi perah agar dapat menghasilkan susu segar dengan persyaratan flatoksin maksimal 0,5 ppb.

“Tingginya kebutuhan akan jagung rendah aflatoksin (dibawah 20 ppb) didalam negeri setiap tahunnya yang diperkirakan sebesar 15.000 ton, telah mendorong Koperasi Dinamika Nusra Agrobisnis untuk berinovasi sehingga mampu menyediakan jagung rendah aflatoksin dengan kapasitas produksi sebesar 30 ton per hari,” iImbuh Gatut menambahkan.

Lebih lanjut Gatut menambahkan, kemampuan Koperasi Dinamika Nusra Agrobisnis untuk menyediakan jagung rendah aflatoksin yang dibutuhkan oleh industri seperti PT. Greenfilds patut kita dukung dan kita dorong untuk dapat meningkatkan kapasitas produksinya sehingga mampu mensuplai kebutuhan industry dalam negeri. Selain menghasilkan jagung rendah aflatoksin, Koperasi Dinamika Nusra Agrobisnis juga telah mampu meningkatkan nilai tambah dengan inovasinya untuk menghasilkan Corn Cob (janggel).

Corn Cobs (janggel) merupakan produk samping produksi jagung rendah aflatoksi dengan pemipilan tersentralisasi menggunkan corn sheller yang diolah dalam bentuk compact dan digunakan sebagai salah satu media untuk budidaya jamur merang. Korea Selatan telah meminta Corn Cobs sebanyak 300 ton/ bulan, namun Koperasi NA baru bisa merealisasikan 150 ton dan sisanya 150 ton dalam tahap produksi.

Secara umum dapat diindikasikan bahwa pengembangan Agrobisnis jagung masih mempunyai prospek, ditinjau dari prospek harga, ekspor dan pengembangan produk. Secara internal, pengembangan Agrobisnis jagung didukung potensi kesesuaian dan ketersediaan lahan, produktivitas yang masih dapat meningkat dan semakin berkembangnya industri hilir. Dengan prospek dan potensi ini, arah pengembangan Agrobisnis jagung adalah pemberdayaan di hulu dan penguatan di hilir.

Sementara itu, Wakil Bupati Lombok Timur, Rumaksi mengatakan sebagai bahan pakan ternak, cemaran aflatoksin pada jagung merupakan salah satu masalah utama pada kegiatan pascapanen jagung. Selain kadar air, aflatoksin cukup signifikan dalam meningkatkan posisi tawar sehingga jagung bisa diterima oleh pabrik pakan.

“Saat ini, pabrik pakan menetapkan standar mutu jagung yang dapat diterima dengan mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI). Salah satu persyaratan mutu jagung yang sangat penting adalah kandungan mikotoksin terutama aflatoksin. Selain mempengaruhi mutu hal tersebut juga berkaitan dengan kemananan pangan. Dalam SNI dipersyaratkan kandungan aflatoksin maksimum untuk jagung sebagai pakan ternak Mutu I dan Mutu II, masing-masing 100 ppb dan 150 ppb,” kata Rumaksi.

Dia berharap launching pengiriman perdana jagung rendah aflatoksin dari Koperasi Produksi Syariah Dinamika Nusa Agribisnis (DNA) ke PT. Greenfields dan ekspor Corn Cobs (Janggel Jagung) ke Korea Selatan tersebut menjadi berkelanjutan dengan diikuti pengiriman berikutnya dengan kapasitas yang lebih besar dan tentu saja kualitas yang terus mengalami peningkatan. Hal itu lanjut Dia, untuk menjaga kepercayaan dunia industri terhadap jagung asal Lombok Timur. Sebab pernah terjadi pada komoditas tertentu produk daerah kita ditolak karena tidak dapat mempertahankan kualitas.

“Produksi jagung nasional dalam lima tahun terakhir meningkat 12,49% per tahun. Pada periode 2018 produksi jagung mencapai 30 juta pipilan kering (PK). Sementara itu untuk luas panen per tahun naik 11,06% dan produktivitas rata-rata meningkat 1,42%.
Di Lombok Timur, berdasarkan data capaian RPJMD 2013-2018 produksi jagung tahun 2017 mencapai 185.432 ton,” imbuhnya.

Lebih lanjut Dia menjelaskan, Pringgabaya menjadi kecamatan dengan luas lahan jagung terbesar. Angka tersebut terus meningkat dibanding tahun sebelumnya, seiring adanya upaya khusus terkait peningkatan produksi padi, jagung, dan kedalai (upsus pajale) yang telah berlangsung sejak 2016 lalu.

“Meningkatnya produksi Pajale saat ini sudah dapat dinikmati petani dengan meningkatnya kesejahteraan petani. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Desember 2018 naik sebesar 0,04 persen menjadi 103,16 dibanding bulan sebelumnya,” tutupnya.

Google+

Lombok (28/3), Kementerian Pertanian melalui Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan (PPHTP), Direktorat Jenderal Tanaman Pangan melepas pengiriman perdana jagung rendah aflatoksin (subtitusi impor) dari Koperasi Dinamika Juara Agrobisnis ke PT Greenfields Surabaya dan Ekspor Corn Cobs (janggel jagung) ke Korea Selatan. Pelepasan dilakukan oleh Direktur PPHTP dan Wakil Bupati Lombok Timur.

Direktur PPHTP, Gatut Sumbogodjati dalam sambutannya memaparkan jagung merupakan komoditas strategis utama terpenting setelah padi dan salah satu komoditas tanaman palawija utama di Indonesia yang kegunaannya relatif luas, terutama untuk konsumsi manusia dan kebutuhan bahan pakan ternak.

Menurutnya, agrobisnis jagung memiliki berbagai keuntungan yakni memberikan banyak manfaat, memiliki keunggulan sebagai pakan untuk unggas, dan usaha taninya mudah. Namun, jagung memiliki beberapa permasalahan seperti luas lahan yang terbatas, dan teknologi usaha tani rendah. Jagung memiliki peluang perdagangan antardaerah dan negara dan kebutuhan jagung nasional cukup tinggi dan terus tumbuh.

“Berdasarkan data ARAM I (angka ramalan) produksi jagung Indonesia pada 2018 seberat 30,56 juta ton dengan luas lahan panen 5,73 juta hektare (ha). Alhasil, produktivitas jagung nasional tahun lalu seberat 52,41 kuintal/ha. Dari total Produksi Jagung Nasional tersebut Provinsi Nusa Tenggara Barat pada ARAM I produksinya mencapai 2.058 juta ton dengan luas lahan panen 306.000 ha. Dari total produksi tersebut, untuk kebutuhan pakan peternak dalam negeri dipekirakan 2,92 juta ton per tahun,” papar Gatut di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis, 28 Maret 2019.

Dikatakan Gatut, meningkatnya produksi jagung dalam negeri tersebut membuat petani jagung dalam negeri semakin bergairah dalam melakukan usaha budidaya pertanaman jagung di lapangan. Akan tetapi, lonjakan produksi jagung nasional tenyata masih belum dimbangi dengan peningkatan kualitas/ mutu dari jagung karena kadar aflatoksinnya masih tinggi.

Itu lantaran, lanjut Gatut, untuk memproduksi jagung rendah aflatoksin memerlukan penanganan khusus mulai dari budidaya, penanganan pasca panen sampai distribusi kepada peternak, disamping itu perlu insentif harga yang memadai. Jagung rendah aflatoksin digunakan sebagai bahan pakan sapi perah agar dapat menghasilkan susu segar dengan persyaratan flatoksin maksimal 0,5 ppb.

“Tingginya kebutuhan akan jagung rendah aflatoksin (dibawah 20 ppb) didalam negeri setiap tahunnya yang diperkirakan sebesar 15.000 ton, telah mendorong Koperasi Dinamika Nusra Agrobisnis untuk berinovasi sehingga mampu menyediakan jagung rendah aflatoksin dengan kapasitas produksi sebesar 30 ton per hari,” iImbuh Gatut menambahkan.

Lebih lanjut Gatut menambahkan, kemampuan Koperasi Dinamika Nusra Agrobisnis untuk menyediakan jagung rendah aflatoksin yang dibutuhkan oleh industri seperti PT. Greenfilds patut kita dukung dan kita dorong untuk dapat meningkatkan kapasitas produksinya sehingga mampu mensuplai kebutuhan industry dalam negeri. Selain menghasilkan jagung rendah aflatoksin, Koperasi Dinamika Nusra Agrobisnis juga telah mampu meningkatkan nilai tambah dengan inovasinya untuk menghasilkan Corn Cob (janggel).

Corn Cobs (janggel) merupakan produk samping produksi jagung rendah aflatoksi dengan pemipilan tersentralisasi menggunkan corn sheller yang diolah dalam bentuk compact dan digunakan sebagai salah satu media untuk budidaya jamur merang. Korea Selatan telah meminta Corn Cobs sebanyak 300 ton/ bulan, namun Koperasi NA baru bisa merealisasikan 150 ton dan sisanya 150 ton dalam tahap produksi.

Secara umum dapat diindikasikan bahwa pengembangan Agrobisnis jagung masih mempunyai prospek, ditinjau dari prospek harga, ekspor dan pengembangan produk. Secara internal, pengembangan Agrobisnis jagung didukung potensi kesesuaian dan ketersediaan lahan, produktivitas yang masih dapat meningkat dan semakin berkembangnya industri hilir. Dengan prospek dan potensi ini, arah pengembangan Agrobisnis jagung adalah pemberdayaan di hulu dan penguatan di hilir.

Sementara itu, Wakil Bupati Lombok Timur, Rumaksi mengatakan sebagai bahan pakan ternak, cemaran aflatoksin pada jagung merupakan salah satu masalah utama pada kegiatan pascapanen jagung. Selain kadar air, aflatoksin cukup signifikan dalam meningkatkan posisi tawar sehingga jagung bisa diterima oleh pabrik pakan.

“Saat ini, pabrik pakan menetapkan standar mutu jagung yang dapat diterima dengan mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI). Salah satu persyaratan mutu jagung yang sangat penting adalah kandungan mikotoksin terutama aflatoksin. Selain mempengaruhi mutu hal tersebut juga berkaitan dengan kemananan pangan. Dalam SNI dipersyaratkan kandungan aflatoksin maksimum untuk jagung sebagai pakan ternak Mutu I dan Mutu II, masing-masing 100 ppb dan 150 ppb,” kata Rumaksi.

Dia berharap launching pengiriman perdana jagung rendah aflatoksin dari Koperasi Produksi Syariah Dinamika Nusa Agribisnis (DNA) ke PT. Greenfields dan ekspor Corn Cobs (Janggel Jagung) ke Korea Selatan tersebut menjadi berkelanjutan dengan diikuti pengiriman berikutnya dengan kapasitas yang lebih besar dan tentu saja kualitas yang terus mengalami peningkatan. Hal itu lanjut Dia, untuk menjaga kepercayaan dunia industri terhadap jagung asal Lombok Timur. Sebab pernah terjadi pada komoditas tertentu produk daerah kita ditolak karena tidak dapat mempertahankan kualitas.

“Produksi jagung nasional dalam lima tahun terakhir meningkat 12,49% per tahun. Pada periode 2018 produksi jagung mencapai 30 juta pipilan kering (PK). Sementara itu untuk luas panen per tahun naik 11,06% dan produktivitas rata-rata meningkat 1,42%.
Di Lombok Timur, berdasarkan data capaian RPJMD 2013-2018 produksi jagung tahun 2017 mencapai 185.432 ton,” imbuhnya.

Lebih lanjut Dia menjelaskan, Pringgabaya menjadi kecamatan dengan luas lahan jagung terbesar. Angka tersebut terus meningkat dibanding tahun sebelumnya, seiring adanya upaya khusus terkait peningkatan produksi padi, jagung, dan kedalai (upsus pajale) yang telah berlangsung sejak 2016 lalu.

“Meningkatnya produksi Pajale saat ini sudah dapat dinikmati petani dengan meningkatnya kesejahteraan petani. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Desember 2018 naik sebesar 0,04 persen menjadi 103,16 dibanding bulan sebelumnya,” tutupnya.

Google+
berita lain