TEROBOSAN PENGERINGAN BENIH YANG EFEKTIF, EFISIEN, EKONOMIIS, FLEKSIBEL DAN RAMAH LINGKUNGAN

Selasa, 10 September 2019

Proses pengeringan calon benih berbeda dengan untuk komsumsi. Hal ini berkaitan dengan kondisi embrio yang ada dalam buah padi. Padi untuk benih memerlukan kesempurnaan dalam pembentukan embrio, sebab embrio harus hidup dan siap untuk dikecambahkan.


Salah satu permasalahan yang sering dihadapi adalah masih kurangnya kesadaran dan pemahaman petani terhadap penanganan pengeringan calon benih yang baik sehingga mengakibatkan masih tingginya kehilangan hasil dan rendahnya mutu calon benih. Untuk mengatasi masalah ini maka perlu dilakukan pengeringan calon benih sesuai kadar air yang ditentukan untuk benih.


Direktur Perbenihan Tanaman Pangan, Takdir Mulyadi saat diwawancara di Jakarta hari Senin (9/9/2019) menerangkan bahwa saat musim hujan, para petani sering menemui kendala dalam mengeringkan calon benih padi, sehingga harus pandai memanfaatkan keadaan cuaca. Kreasi dan inovasi petani penangkar dibeberapa tempat telah berhasil mengatasi pengeringan calon benih padi di musim rendengan.

Di tempat terpisah Kepala UPT Balai Benih Pertanian Kab. Bantul, Budi Santoso menceritakan bahwa ia berhasil menciptakan terobosan metode penjemuran alami calon benih yang, praktis, efektif, efisien, ekonomis, fleksibel dan ramah lingkungan dan aplikatif diterapkan. ”Saya menyebutnya dengan metode SIPERKASA yang artinya Sistem Penjemuran Karya Santoso,”ungkap Santoso.


“Adapun teknik penjemuran ini sangat mudah, jika dibandingkan dengan cara konvensional banyak keuntungan didapat. Waktu penjemuran lebih cepat semula 4-5 hari menjadi 2-3 dengan kadar air sesuai standar untuk benih, pengerjaannya praktis, murah memiliki nilai ekonomi tinggi terbuat dari bahan mudah didapat dan ramah lingkungan yaitu bambu, besi penyangga, terpal,tali. Fleksibel bisa ditempatkan dimana saja, efektif mempersingkat waktu dan efisien menghemat tenaga 50%, tidak harus diangkut saat musim hujan atau sampai selesai penjemuran. Dengan biaya yang murah, dapat memproses penjemuran lebih banyak dan dapat digunakan dalam jangka waktu lama. Jika untuk konsumsi gabah yang digiling, berasnya pun tidak pecah.” Jelas Santoso


Dari hasil perhitungan Santoso, keuntungan yang didapat dari terobosan ini dapat menghemat biaya pengeringan. Hitunganya inovasi ini, biaya pengeringan Rp. 210/kg sedangkan secara konvensional Rp. 840/kg terdapat nilai tambah selisih keuntungan Rp. 630/kg.

Inovasi yang dilakukan oleh Santoso ini ternyata telah mendapat penghargaan dari Menpan RB pada lomba inovasi Top 99 dan Top 45 tahun 2019. Inovasi ini bisa juga diterapkan untuk menjemur benih serealia/biji (padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kopi, dll).

 

Kontributor : Retno Setianingsih & Heny Rayhani (Pengawas Benih Tanaman)

Google+

Proses pengeringan calon benih berbeda dengan untuk komsumsi. Hal ini berkaitan dengan kondisi embrio yang ada dalam buah padi. Padi untuk benih memerlukan kesempurnaan dalam pembentukan embrio, sebab embrio harus hidup dan siap untuk dikecambahkan.


Salah satu permasalahan yang sering dihadapi adalah masih kurangnya kesadaran dan pemahaman petani terhadap penanganan pengeringan calon benih yang baik sehingga mengakibatkan masih tingginya kehilangan hasil dan rendahnya mutu calon benih. Untuk mengatasi masalah ini maka perlu dilakukan pengeringan calon benih sesuai kadar air yang ditentukan untuk benih.


Direktur Perbenihan Tanaman Pangan, Takdir Mulyadi saat diwawancara di Jakarta hari Senin (9/9/2019) menerangkan bahwa saat musim hujan, para petani sering menemui kendala dalam mengeringkan calon benih padi, sehingga harus pandai memanfaatkan keadaan cuaca. Kreasi dan inovasi petani penangkar dibeberapa tempat telah berhasil mengatasi pengeringan calon benih padi di musim rendengan.

Di tempat terpisah Kepala UPT Balai Benih Pertanian Kab. Bantul, Budi Santoso menceritakan bahwa ia berhasil menciptakan terobosan metode penjemuran alami calon benih yang, praktis, efektif, efisien, ekonomis, fleksibel dan ramah lingkungan dan aplikatif diterapkan. ”Saya menyebutnya dengan metode SIPERKASA yang artinya Sistem Penjemuran Karya Santoso,”ungkap Santoso.


“Adapun teknik penjemuran ini sangat mudah, jika dibandingkan dengan cara konvensional banyak keuntungan didapat. Waktu penjemuran lebih cepat semula 4-5 hari menjadi 2-3 dengan kadar air sesuai standar untuk benih, pengerjaannya praktis, murah memiliki nilai ekonomi tinggi terbuat dari bahan mudah didapat dan ramah lingkungan yaitu bambu, besi penyangga, terpal,tali. Fleksibel bisa ditempatkan dimana saja, efektif mempersingkat waktu dan efisien menghemat tenaga 50%, tidak harus diangkut saat musim hujan atau sampai selesai penjemuran. Dengan biaya yang murah, dapat memproses penjemuran lebih banyak dan dapat digunakan dalam jangka waktu lama. Jika untuk konsumsi gabah yang digiling, berasnya pun tidak pecah.” Jelas Santoso


Dari hasil perhitungan Santoso, keuntungan yang didapat dari terobosan ini dapat menghemat biaya pengeringan. Hitunganya inovasi ini, biaya pengeringan Rp. 210/kg sedangkan secara konvensional Rp. 840/kg terdapat nilai tambah selisih keuntungan Rp. 630/kg.

Inovasi yang dilakukan oleh Santoso ini ternyata telah mendapat penghargaan dari Menpan RB pada lomba inovasi Top 99 dan Top 45 tahun 2019. Inovasi ini bisa juga diterapkan untuk menjemur benih serealia/biji (padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kopi, dll).

 

Kontributor : Retno Setianingsih & Heny Rayhani (Pengawas Benih Tanaman)

Google+
berita lain