Dorong ekspor ubi jalar kementan pertemukan, eksportir dan petani.

Rabu, 30 Oktober 2019

Malang(28/10,)Kementerian Pertanian terus melancarkan strateginya dalam meningkatkan ekspor produk pertanian diantaranya ubi jalar. Berdasarkan data yang dirilis OEC (Observatory of Economic Complexity) Indonesia termasuk dalam 10 negara produsen ubi jalar di dunia dengan nilai transaksi sebesar $ 9,45 juta .

"Pasar ubi jalar di luar negeri masih cukup luas, tapi kita hanya mampu memenuhi sekitar 30-40% dari permintaan pasar. Untuk itu hari ini kita ketemukan para eksportir dengan para petani ubi jalar, biar ketemu solusi terbaik terhadap kendala teknis maupun non teknis untuk peningkatan ekspor" ujar Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan Gatut Sumbogodjati, saat memberikan sambutan pada Acara Fasilitasi Investasi Pengembangan Ekspor Ubi Jalar senin malam (28/10) di Malang.

Acara yang diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan ini mengundang para pengusaha, peneliti dan petani ubi jalar. Dalam acara ini pengusaha ubi jalar memaparkan varietas apa saja yang mereka terima.

Untuk menjamin kontinuitas pasokan Gatut menyarankan eksportir melakukan pola kemitraan atau kebun sendiri.

Gatut menambahkan agar petani memproduksi sesuai dengan standar perusahaan dan varietas yg dibutuhkan oleh para pengusaha. Pola kemitraan yang sehat tidak hanya menguntungkan petani tetapi juga eksportir.

Petani harus memegang komitmen isi perjanjian (MoU) dan tidak mudah beralih ke pihak lain yg menawarkan harga lebih tinggi namun hanya sesaat saja, tidak terus menerus. Lebih baik komit dengan MOU yang sudah disepakati untuk menjaga kepercayaan mitra sehingga kemitraan tersebut dapat berkelanjutan.

Varietas yang disukai eksportir

Ace putih, ubi cilembu, ubi jepang beniazuma adalah varietas yang siap ditampung oleh perusahaan kami, tutur Putut manajer penanaman dari PT indo wooyang menjelaskan pada para peserta rapat. Putut menjelaskan bahwa pasokan ubi jalar yang masuk baru 50% dari kemampuan produksi perusahaan sebesar 50 ton / hari.

Kurangnya ketersediaan bibit unggul, dan komitmen penanaman dari petani jadi kendala putut menerima pasokan ubi yang standar perusahaan.

Senada dengan PT indo wooyang , Kiran Rahal dari PT KSIP Agro menjelaskan selain masalah bibit unggul, petani juga tidak terbiasa menanggani hasil panen secara baik dan standar ekspor. Kiran pun menjelaskan kepada petani yang hadir bagaimana standar penanganan ubi yang baik, mulai dari teknik pencucian sekaligus pengepakan saat pengiriman hingga diterima dipabrik.

Kiran sangat mengapresiasi forum pertemuan yang diadakan oleh Ditjen Tanaman Pangan. "ini menjadi langkah positif pemerintah dalam membangun tata niaga dan persamaan persepsi tentang budidaya ubi jalar di Indonesia" imbuh nya.

Dukungan pemerintah

Untuk mendukung dari sisi produksi Kementan mengalokasikan bantuan 2.500 hektar bantuan benih ubi jalar unggul bersertifikat tahun 2020. Dan untuk bimbingan teknis, kementan akan mengalokasikan anggaran untuk pertemuan Forum Group Discussion (FGD).

Dengan ada nya FGD diharapkan dapat menjalin sinergitas antar eksportir, petani dan pemerintah pusat dan daerah.

Pada akhir acara tersebut PT. Indowooyang melakukan MoU Produksi dan Pemasaran Ubi Jalar dengan petani Ubi Jalar dari Kuningan. Untuk menggaet generasi muda PT indowooyang pun melakukan MoU serupa dg Mahasiswa dari Perguruan Tinggi Politeknik Pembangunan Pertanian Malang untuk transfer knowledge dan pembinaan terkait produksi produk olahan ubi jalar.

Google+

Malang(28/10,)Kementerian Pertanian terus melancarkan strateginya dalam meningkatkan ekspor produk pertanian diantaranya ubi jalar. Berdasarkan data yang dirilis OEC (Observatory of Economic Complexity) Indonesia termasuk dalam 10 negara produsen ubi jalar di dunia dengan nilai transaksi sebesar $ 9,45 juta .

"Pasar ubi jalar di luar negeri masih cukup luas, tapi kita hanya mampu memenuhi sekitar 30-40% dari permintaan pasar. Untuk itu hari ini kita ketemukan para eksportir dengan para petani ubi jalar, biar ketemu solusi terbaik terhadap kendala teknis maupun non teknis untuk peningkatan ekspor" ujar Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan Gatut Sumbogodjati, saat memberikan sambutan pada Acara Fasilitasi Investasi Pengembangan Ekspor Ubi Jalar senin malam (28/10) di Malang.

Acara yang diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan ini mengundang para pengusaha, peneliti dan petani ubi jalar. Dalam acara ini pengusaha ubi jalar memaparkan varietas apa saja yang mereka terima.

Untuk menjamin kontinuitas pasokan Gatut menyarankan eksportir melakukan pola kemitraan atau kebun sendiri.

Gatut menambahkan agar petani memproduksi sesuai dengan standar perusahaan dan varietas yg dibutuhkan oleh para pengusaha. Pola kemitraan yang sehat tidak hanya menguntungkan petani tetapi juga eksportir.

Petani harus memegang komitmen isi perjanjian (MoU) dan tidak mudah beralih ke pihak lain yg menawarkan harga lebih tinggi namun hanya sesaat saja, tidak terus menerus. Lebih baik komit dengan MOU yang sudah disepakati untuk menjaga kepercayaan mitra sehingga kemitraan tersebut dapat berkelanjutan.

Varietas yang disukai eksportir

Ace putih, ubi cilembu, ubi jepang beniazuma adalah varietas yang siap ditampung oleh perusahaan kami, tutur Putut manajer penanaman dari PT indo wooyang menjelaskan pada para peserta rapat. Putut menjelaskan bahwa pasokan ubi jalar yang masuk baru 50% dari kemampuan produksi perusahaan sebesar 50 ton / hari.

Kurangnya ketersediaan bibit unggul, dan komitmen penanaman dari petani jadi kendala putut menerima pasokan ubi yang standar perusahaan.

Senada dengan PT indo wooyang , Kiran Rahal dari PT KSIP Agro menjelaskan selain masalah bibit unggul, petani juga tidak terbiasa menanggani hasil panen secara baik dan standar ekspor. Kiran pun menjelaskan kepada petani yang hadir bagaimana standar penanganan ubi yang baik, mulai dari teknik pencucian sekaligus pengepakan saat pengiriman hingga diterima dipabrik.

Kiran sangat mengapresiasi forum pertemuan yang diadakan oleh Ditjen Tanaman Pangan. "ini menjadi langkah positif pemerintah dalam membangun tata niaga dan persamaan persepsi tentang budidaya ubi jalar di Indonesia" imbuh nya.

Dukungan pemerintah

Untuk mendukung dari sisi produksi Kementan mengalokasikan bantuan 2.500 hektar bantuan benih ubi jalar unggul bersertifikat tahun 2020. Dan untuk bimbingan teknis, kementan akan mengalokasikan anggaran untuk pertemuan Forum Group Discussion (FGD).

Dengan ada nya FGD diharapkan dapat menjalin sinergitas antar eksportir, petani dan pemerintah pusat dan daerah.

Pada akhir acara tersebut PT. Indowooyang melakukan MoU Produksi dan Pemasaran Ubi Jalar dengan petani Ubi Jalar dari Kuningan. Untuk menggaet generasi muda PT indowooyang pun melakukan MoU serupa dg Mahasiswa dari Perguruan Tinggi Politeknik Pembangunan Pertanian Malang untuk transfer knowledge dan pembinaan terkait produksi produk olahan ubi jalar.

Google+
berita lain