JUMPA PERS DIRJEN TANAMAN PANGAN : SASARAN PRODUKSI PADI TAHUN 2016 NAIK

Kamis, 03 Maret 2016

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Hasil Sembiring didampingi mantan Direktur Utama Perum Bulog Soetarto Alimoeso, Direktur  Pengadaan Perum Bulog Wahyu, Kepala Pusat data dan Informasi Pertanian (Pusdatin) Suwandi dan sejumlah pejabat Eselon II, III, IV dari masing-masing direktorat lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menggelar jumpa pers dengan seluruh awak media yang tergabung dalam Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) di Aula P2BN Rabu, (2/3).

Dalam jumpa pers tersebut Dirjen Tanaman Pangan Dr. Ir Hasil Sembiring, M.Sc memaparkan perkembangan realisasi musim tanam 2014/2015 sampai dengan Februari tahun 2016. Padi seluas 6.868.192 ha atau lebih rendah 417,734 ha dibanding musim tanam 2013/2014, jagung seluas 2.149.094 ha atau lebih rendah 25.415 ha dibanding musim tanam 2013/2014 dan kedelai seluas 183.846 ha atau lebih rendah 42.306 ha dibanding musim tanam 201/3/2014. Hasil juga menyampaikan  data angka sementara produksi padi, jagung, dan kedelai  2016.

Kementan menetapkan sasaran produksi padi sebesar 76.226.000 ton, naik dari tahun 2015 sebesar 75.361.248 ton. Perkiraan produksi tersebut didasarkan pada luas area tanam di tahun ini sebesar 14.314.742 hektar, naik dari tahun lalu 14.115.475 hektar.

Adapun sasaran produksi jagung tahun ini mencapai 24 juta ton pipilan kering. Target produksi itu ditopang dengan luas panen sebesar 4,56 juta hektare (ha) dan peningkatan produktivitas 51,4 kilogram (kg)/ha. Dibandingkan realisasi produksi jagung tahun 2015 lalu sebesar 19,6 juta ton pipilan kering, artinya pemerintah menargetkan kenaikan produksi sebesar 4,38 juta ton pipilan kering atau sebesar 22,38%.

Untuk komoditas kedelai, target kenaikan produksi tahun 2016 ini mencapai   55,75 % atau sebesar 536.901 ton. Untuk luas panen ditaksir meningkat dari 613.885 ha menjadi 953.213 ha. Adapun, produktivitas diperkirakan meningkat sebesar 1,57 kg/ha dari 1,56.

Menyangkut alokasi subsidi benih tahun 2015 dikatakan, untuk padi hibrida seluas 3.940,000 ha (166.500 ton) , untuk padi hibrida seluas 100.000 ha (1500ton) untuk jagung hibrida seluas 100.000 ha (1500 ton) dan kedelai seluas 300.000 ha (15000 ton), urainya.

“Sedangkan data untuk serangan OPT utama, kekeringan, dan kebanjiran pada lahan padi, jagung, dan kedelai dapat disampaikan pada tanaman padi 2015 sampai dengan Februari 2015. Sampai Februari ini,untuk serangan OPT Utama yang terkena seluas 34.287 ha (1,38 persen) dan yang puso seluas 44 ha (0,002 persen) dari luas tanam,” kata Hasil Sembiring.

Ia juga menegaskan untuk tanaman jagung dan kedelai yang terkena serangan masing-masing seluas 2.146 ha atau 0,49 persen (jagung), 705 ha atau 0,12 persen (kedelai) dan yang puso seluas 2 Ha atau 0,0005 persen (jagung). Untuk kondisi yang terkena banjir dapat disampaikan di pertanaman padi yang terkena seluas 46.653 ha (1,87 persen), pusonya 9.126 ha (0,37 ha), tanaman jagung seluas 777 ha (0,18 persen), puso 51 ha (0,01 persen) dan kedelai seluas 119 ha (0,02 persen) pusonya 57 ha (0,01 persen).

Pada kesempatan yang sama Direktur Pengadaan Bulog Wahyu  menyampaikan bahwa untuk tahun 2016, kita ditargetkan sesuai RKAP untuk bisa menyerap hingga sekitar empat juta ton beras mulai bulan Maret, April, dan Mei 2016.

Pada waktu panen raya yang diperkirakan akan jatuh hingga tiga bulan tersebut, dinilai sebagai waktu di mana harga beras lebih murah dari biasanya atau setara dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

Karenanya, lanjut Wahyu, pada tahun ini Bulog ditargetkan melakukan pengadaan beras hingga 4 juta ton yang diantaranya 3,2 juta ton untuk pelayanan publik (Public Service Obligation/PSO) dan 800.000 ton beras komersil.

"Selain itu kita juga diminta melakukan pengadaan Gabah Kering Panen (GKP) minimal sebesar 1,25 juta ton," tuturnya.

Terkait dengan waktu yang bersamaan dengan musim hujan saat ini, Bulog memiliki strategi agar bisa melakukan pengadaan gabah dengan volume besar melalui kerjasama dengan beberapa pihak, antara lain dengan sejumlah BUMN yang memiliki mesin pengering berkapasitas 1.500 ton per hari.

Lalu ada pihak swasta yang memiliki fasilitas pengeringan berkapasitas 750 ton per hari, serta BUMD di Indramayu dan Sulawesi Selatan yang memiliki fasilitas serupa dengan kapasitas 500 ton per hari. "Total adanya 2.750 ton kapasitas pengering yang kami miliki per hari saat ini," ucapnya.

Wahyu mengatakan, bahwa Bulog masih terus menjajaki kerjasama dengan pihak lain, baik BUMN, BUMD, dan Swasta, untuk memperbanyak mesin pengering yang dapat digunakan Bulog.

"Sebab idealnya, Bulog harus memiliki mesin pengering dengan kapasitas pengeringan 5.000 ton per hari. (HUMAS TP)

Google+

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Hasil Sembiring didampingi mantan Direktur Utama Perum Bulog Soetarto Alimoeso, Direktur  Pengadaan Perum Bulog Wahyu, Kepala Pusat data dan Informasi Pertanian (Pusdatin) Suwandi dan sejumlah pejabat Eselon II, III, IV dari masing-masing direktorat lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menggelar jumpa pers dengan seluruh awak media yang tergabung dalam Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) di Aula P2BN Rabu, (2/3).

Dalam jumpa pers tersebut Dirjen Tanaman Pangan Dr. Ir Hasil Sembiring, M.Sc memaparkan perkembangan realisasi musim tanam 2014/2015 sampai dengan Februari tahun 2016. Padi seluas 6.868.192 ha atau lebih rendah 417,734 ha dibanding musim tanam 2013/2014, jagung seluas 2.149.094 ha atau lebih rendah 25.415 ha dibanding musim tanam 2013/2014 dan kedelai seluas 183.846 ha atau lebih rendah 42.306 ha dibanding musim tanam 201/3/2014. Hasil juga menyampaikan  data angka sementara produksi padi, jagung, dan kedelai  2016.

Kementan menetapkan sasaran produksi padi sebesar 76.226.000 ton, naik dari tahun 2015 sebesar 75.361.248 ton. Perkiraan produksi tersebut didasarkan pada luas area tanam di tahun ini sebesar 14.314.742 hektar, naik dari tahun lalu 14.115.475 hektar.

Adapun sasaran produksi jagung tahun ini mencapai 24 juta ton pipilan kering. Target produksi itu ditopang dengan luas panen sebesar 4,56 juta hektare (ha) dan peningkatan produktivitas 51,4 kilogram (kg)/ha. Dibandingkan realisasi produksi jagung tahun 2015 lalu sebesar 19,6 juta ton pipilan kering, artinya pemerintah menargetkan kenaikan produksi sebesar 4,38 juta ton pipilan kering atau sebesar 22,38%.

Untuk komoditas kedelai, target kenaikan produksi tahun 2016 ini mencapai   55,75 % atau sebesar 536.901 ton. Untuk luas panen ditaksir meningkat dari 613.885 ha menjadi 953.213 ha. Adapun, produktivitas diperkirakan meningkat sebesar 1,57 kg/ha dari 1,56.

Menyangkut alokasi subsidi benih tahun 2015 dikatakan, untuk padi hibrida seluas 3.940,000 ha (166.500 ton) , untuk padi hibrida seluas 100.000 ha (1500ton) untuk jagung hibrida seluas 100.000 ha (1500 ton) dan kedelai seluas 300.000 ha (15000 ton), urainya.

“Sedangkan data untuk serangan OPT utama, kekeringan, dan kebanjiran pada lahan padi, jagung, dan kedelai dapat disampaikan pada tanaman padi 2015 sampai dengan Februari 2015. Sampai Februari ini,untuk serangan OPT Utama yang terkena seluas 34.287 ha (1,38 persen) dan yang puso seluas 44 ha (0,002 persen) dari luas tanam,” kata Hasil Sembiring.

Ia juga menegaskan untuk tanaman jagung dan kedelai yang terkena serangan masing-masing seluas 2.146 ha atau 0,49 persen (jagung), 705 ha atau 0,12 persen (kedelai) dan yang puso seluas 2 Ha atau 0,0005 persen (jagung). Untuk kondisi yang terkena banjir dapat disampaikan di pertanaman padi yang terkena seluas 46.653 ha (1,87 persen), pusonya 9.126 ha (0,37 ha), tanaman jagung seluas 777 ha (0,18 persen), puso 51 ha (0,01 persen) dan kedelai seluas 119 ha (0,02 persen) pusonya 57 ha (0,01 persen).

Pada kesempatan yang sama Direktur Pengadaan Bulog Wahyu  menyampaikan bahwa untuk tahun 2016, kita ditargetkan sesuai RKAP untuk bisa menyerap hingga sekitar empat juta ton beras mulai bulan Maret, April, dan Mei 2016.

Pada waktu panen raya yang diperkirakan akan jatuh hingga tiga bulan tersebut, dinilai sebagai waktu di mana harga beras lebih murah dari biasanya atau setara dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

Karenanya, lanjut Wahyu, pada tahun ini Bulog ditargetkan melakukan pengadaan beras hingga 4 juta ton yang diantaranya 3,2 juta ton untuk pelayanan publik (Public Service Obligation/PSO) dan 800.000 ton beras komersil.

"Selain itu kita juga diminta melakukan pengadaan Gabah Kering Panen (GKP) minimal sebesar 1,25 juta ton," tuturnya.

Terkait dengan waktu yang bersamaan dengan musim hujan saat ini, Bulog memiliki strategi agar bisa melakukan pengadaan gabah dengan volume besar melalui kerjasama dengan beberapa pihak, antara lain dengan sejumlah BUMN yang memiliki mesin pengering berkapasitas 1.500 ton per hari.

Lalu ada pihak swasta yang memiliki fasilitas pengeringan berkapasitas 750 ton per hari, serta BUMD di Indramayu dan Sulawesi Selatan yang memiliki fasilitas serupa dengan kapasitas 500 ton per hari. "Total adanya 2.750 ton kapasitas pengering yang kami miliki per hari saat ini," ucapnya.

Wahyu mengatakan, bahwa Bulog masih terus menjajaki kerjasama dengan pihak lain, baik BUMN, BUMD, dan Swasta, untuk memperbanyak mesin pengering yang dapat digunakan Bulog.

"Sebab idealnya, Bulog harus memiliki mesin pengering dengan kapasitas pengeringan 5.000 ton per hari. (HUMAS TP)

Google+
berita lain