JOMBANG SUMBANG 4% PRODUKSI NASIONAL

Senin, 21 Maret 2016

Thumbnails
Thumbnails

Jombang (Ditjen TP) - Kementerian Pertanian (Kementan) RI menargetkan sebanyak 76 juta ton gabah pada tahun 2016. Angka tersebut naik dari tahun 2015 yang mencapai 75,3 juta ton. Target tersebut sebagai upaya mencapai kedaulatan pangan di Indonesia.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Hasil Sembiring mengatakan, Jawa Timur merupakan kontributor terbesar gabah nasional yang mencapai 13 juta ton. Sementara Kabupaten Jombang menyumbang sekitar empat persen gabah dari kebutuhan nasional, yakni sebesar 476 ribu ton. Sementara saat puncak panen raya padi pada Februari dan Maret, Kementan menargetkan produksi 10 juta ton gabah. Hasil dari puncak musim panen padi akan digunakan sebagai stok gabah nasional dengan optimalisasi penanaman padi oleh para petani, urainya.

“Istilah Tanam, Panen, dan Sergap (serap gabah petani) memang baru. Namun, saat panen kemudian langsung tanam, dan dibeli Bulog langsung, target produksi padi kita bisa terpernuhi,” ujarnya saat menghadiri panen raya padi di Desa Palrejo Kecamatan Sumobito, Jombang, Sabtu (19/3/2016).

Untuk mewujudkan swasembada padi, lanjut Sembiring, Kementerian Pertanian juga melakukan MOU (memorandum of understanding) dengan PT Perhutani, agar Perhutani menyediakan lahan pertanian untuk petani. "Nilai plusnya, kini petani penggarap lahan Perhutani bisa menerima subsidi dari pemerintah. Semua petani penggarap lahan Perhutani kini sudah tidak dianak tirikan. Mereka bisa menerima benih, bibit dan juga pupuk bersubsidi sebagai mana petani lain," tandasnya.

Selain melakukan panen raya, Hasil Sembiring juga menyerahkan bantuan alat pertanian seperti mesin traktor tangan, alat tanam mekanik dan bibit padi dari pemerintah, kepada sejumlah kelompok tani di Jombang.

Sementara itu Anggota DPR RI Komisi IV, Suryo Alam dalam sambutannya menyampaikan, pemerintah pusat merealisasikan bantuan kepada petani di Jombang sebanyak 430 alat pertanian, diantaranya mesin tanam, pompa, traktor roda 2 dan 4, dan 20 unit pasca panen. Bantuan tersebut sesuai usulan dari Pemkab Jombang.

“Semoga bantuan tersebut bisa meningkatkan produktivitas pertanian. Kalau dulu ada jeda antara masa panen dengan tanam, dengan alat tersebut diharapkan bisa mempersingkat waktu dan lebih produktif dengan memperhatikan kesuburan tanah,” ujar Suryo Alam.

Ia juga meminta Bulog melakukan penyerapan gabah petani secara maksimal. Caranya, Bulog melakukan jemput bola ke petani yakni datang langsung ke sawah, sehingga harga jual gabah tetap sesuai dengan HPP.

“Jika Bulog melakukan jemput bola ke petani, maka petani tidak akan menjual hasil panennya ke tengkulak. Karena harga jual ke tengkulak, jauh dari HPP,” papar politisi Partai Golkar ini.

Pada kesempatan yang sama Bupati Nyono Suharli mengatakan, rencananya panen raya tersebut akan dihadiri Presiden Jokowi. “Namun karena sesuatu hal, akhirnya tidak jadi. Pak Jokowi ada kegiatan peresmian jalan tol di Mojokerto,” ujar Bupati Nyono di lokasi panen raya Desa Palrejo.

Dalam panen raya tersebut, Hasil Sembiring bersama Suryo Alam dan Bupati Nyono tidak menggunakan sabit untuk memotong padi, namun menggunakan mesin. Begitu tiga mesin pemotong itu dijalankan di tengah sawah siap panen, padi yang sebelumnya berdiri tegak, langsung roboh dan gabah masuk sak.

Pasca panen yang dilakukan secara simbolik, Bupati bersama Dirjen Tanaman Pangan juga melakukan penanaman padi secara simbolis. Penanaman tersebut juga menggunakan mesin mekanik. Terakhir Bulog melakukan pembelian hasil panen petani sesuai dengan HPP (harga pokok pembelian), yakni Rp 3.700 per kilogram.

“Alat mekanik ini bantuan dari pemerintah pusat untuk kelompok tani. Dengan mekanisasi, bisa mengirit biaya operasional petani hingga 15 persen. Jadi sangat membantu petani,” ujar Nyono. (Humas TP)

Baca juga :

http://inilahberita.com/index.php/19/03/tahun-2016-pemerintah-targetkan-76-juta-ton-gabah/

http://m.suarakarya.id/2016/03/19/kementan-targetkan-10-juta-ton-gabah-di-puncak-panen.html

 http://tribratanewsjombang.com/kapolres-panen-padi/

 

Google+
Thumbnails
Thumbnails

Jombang (Ditjen TP) - Kementerian Pertanian (Kementan) RI menargetkan sebanyak 76 juta ton gabah pada tahun 2016. Angka tersebut naik dari tahun 2015 yang mencapai 75,3 juta ton. Target tersebut sebagai upaya mencapai kedaulatan pangan di Indonesia.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Hasil Sembiring mengatakan, Jawa Timur merupakan kontributor terbesar gabah nasional yang mencapai 13 juta ton. Sementara Kabupaten Jombang menyumbang sekitar empat persen gabah dari kebutuhan nasional, yakni sebesar 476 ribu ton. Sementara saat puncak panen raya padi pada Februari dan Maret, Kementan menargetkan produksi 10 juta ton gabah. Hasil dari puncak musim panen padi akan digunakan sebagai stok gabah nasional dengan optimalisasi penanaman padi oleh para petani, urainya.

“Istilah Tanam, Panen, dan Sergap (serap gabah petani) memang baru. Namun, saat panen kemudian langsung tanam, dan dibeli Bulog langsung, target produksi padi kita bisa terpernuhi,” ujarnya saat menghadiri panen raya padi di Desa Palrejo Kecamatan Sumobito, Jombang, Sabtu (19/3/2016).

Untuk mewujudkan swasembada padi, lanjut Sembiring, Kementerian Pertanian juga melakukan MOU (memorandum of understanding) dengan PT Perhutani, agar Perhutani menyediakan lahan pertanian untuk petani. "Nilai plusnya, kini petani penggarap lahan Perhutani bisa menerima subsidi dari pemerintah. Semua petani penggarap lahan Perhutani kini sudah tidak dianak tirikan. Mereka bisa menerima benih, bibit dan juga pupuk bersubsidi sebagai mana petani lain," tandasnya.

Selain melakukan panen raya, Hasil Sembiring juga menyerahkan bantuan alat pertanian seperti mesin traktor tangan, alat tanam mekanik dan bibit padi dari pemerintah, kepada sejumlah kelompok tani di Jombang.

Sementara itu Anggota DPR RI Komisi IV, Suryo Alam dalam sambutannya menyampaikan, pemerintah pusat merealisasikan bantuan kepada petani di Jombang sebanyak 430 alat pertanian, diantaranya mesin tanam, pompa, traktor roda 2 dan 4, dan 20 unit pasca panen. Bantuan tersebut sesuai usulan dari Pemkab Jombang.

“Semoga bantuan tersebut bisa meningkatkan produktivitas pertanian. Kalau dulu ada jeda antara masa panen dengan tanam, dengan alat tersebut diharapkan bisa mempersingkat waktu dan lebih produktif dengan memperhatikan kesuburan tanah,” ujar Suryo Alam.

Ia juga meminta Bulog melakukan penyerapan gabah petani secara maksimal. Caranya, Bulog melakukan jemput bola ke petani yakni datang langsung ke sawah, sehingga harga jual gabah tetap sesuai dengan HPP.

“Jika Bulog melakukan jemput bola ke petani, maka petani tidak akan menjual hasil panennya ke tengkulak. Karena harga jual ke tengkulak, jauh dari HPP,” papar politisi Partai Golkar ini.

Pada kesempatan yang sama Bupati Nyono Suharli mengatakan, rencananya panen raya tersebut akan dihadiri Presiden Jokowi. “Namun karena sesuatu hal, akhirnya tidak jadi. Pak Jokowi ada kegiatan peresmian jalan tol di Mojokerto,” ujar Bupati Nyono di lokasi panen raya Desa Palrejo.

Dalam panen raya tersebut, Hasil Sembiring bersama Suryo Alam dan Bupati Nyono tidak menggunakan sabit untuk memotong padi, namun menggunakan mesin. Begitu tiga mesin pemotong itu dijalankan di tengah sawah siap panen, padi yang sebelumnya berdiri tegak, langsung roboh dan gabah masuk sak.

Pasca panen yang dilakukan secara simbolik, Bupati bersama Dirjen Tanaman Pangan juga melakukan penanaman padi secara simbolis. Penanaman tersebut juga menggunakan mesin mekanik. Terakhir Bulog melakukan pembelian hasil panen petani sesuai dengan HPP (harga pokok pembelian), yakni Rp 3.700 per kilogram.

“Alat mekanik ini bantuan dari pemerintah pusat untuk kelompok tani. Dengan mekanisasi, bisa mengirit biaya operasional petani hingga 15 persen. Jadi sangat membantu petani,” ujar Nyono. (Humas TP)

Baca juga :

http://inilahberita.com/index.php/19/03/tahun-2016-pemerintah-targetkan-76-juta-ton-gabah/

http://m.suarakarya.id/2016/03/19/kementan-targetkan-10-juta-ton-gabah-di-puncak-panen.html

 http://tribratanewsjombang.com/kapolres-panen-padi/

 

Google+
berita lain