Nurul Mustaman

KUNJUNGAN DIRJEN TANAMAN PANGAN KEMENTAN KE KABUPATEN SERANG

Dibuat : 06-12-2017, 14:18:44    Kategori : Pengawas Benih Tanaman

Ikut serta dalam rombongan terkecuali Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Direktur Serealia Dr. Ir. Hasil Sembiring, Direktur Perbenihan Dr. Ir. Bambang Budhianto, Kasubdit Padi Tempat Kering Ir. Syarifudin, Kasubdit Jagung Ir. Bambang Sugiharto, M. Eng, serta Kasubdit Pengelolaan PHT Ir. Dedi Ruswansyah, MM.

Kadistanak Prov. Banten Ir. Hj. Eneng Nurcahyati, Kabid Tanaman Pangan Ir. Kanim, Kepala BPTPH Prov. Banten, Kepala BBI Prov. Banten, Kasi Produksi Serealia Momod Syafrudin, SP., M. Si. serta Kasi Saat Panen Distanak Prov. BantenIr. H. Sulhi juga turut mengikuti rombongan.

Juga ada dalam aktivitas monitoring ini Kepala BPTP Propinsi Banten, Dr. Ir. Muchamad Yusron, M. Phil serta Dr. Ir. Eko Sri Mulyani, MS., kepala BPTP Propinsi Banten periode terlebih dulu.

Dalam acara ini, Tim DPKPP dimotori oleh Kabid Pertanian, Ir. Puji Astuti, MM. Terkecuali tim dari DPKPP Kabupaten Serang, turut menyongsong rombongan Kepala Tubuh Pelaksana Penyuluhan serta Ketahanan Pangan Kabupaten Serang, Ir. H. Sri Budi Prihasto, MM serta Kabid Ir. Edi Suhardiman, MM.

Ada dua tempat yang dilihat oleh Rombongan itu, Sentra Produksi Jagung Desa Bojong Nangka Kecamatan Petir serta Sentra Produksi Padi Desa Margasana Kecamatan Kramatwatu.

Di Desa Bojong Nangka Kecamatan Petir, rombongan di terima oleh Ketua Poktan Keinginan Sejahtera V, Nurdiansyah, Ketua Poktan Keinginan Sejahtera III Abu Bakar, Ketua Poktan Putra Jaya Sarkani serta Ketua Poktan Tunas Saluyu Cecep Rohana bersama beberapa anggotanya.

Dalam peluang itu, rombongan pernah melihat pemipilan jagung dengan memakai corn sheller. Ketika demonstrasi alat, hasil pemipilan kurang prima. Banyak biji jagung yang pecah serta turut terbuang dengan sisa tongkol.

Saat lakukan pengukuran kandungan air dengan memakai Grain Moisture Tester, kandungan air biji jagung sekitar pada 23-27%. Nampaknya hal semacam ini juga yang jadikan hasil pemipilan kurang prima. Diluar itu putaran mesin corn sheller tidak bisa diukur dengan presisi. Baiknya untuk pemipilan jagung kandungan air sekitar pada 18-20% dengan putaran mesin 500-600 RPM.

Dalam peluang ini diselenggarakan Bertanya jawab pada rombangan Dirjen TP serta grup tani. Sebagian persoalan yang keluar di-antaranya harga benih jagung hibrida yang relatif tinggi, status petani penggarap, alat saat panen, pembayaran jagung pipilan kering dari pabrik pakan yg tidak segera, dan terbatasnya sumber air.

Dirjen Tanaman Pangan pernah mengemukakan pemakaian pompa air bertenaga surya (solar cell) jadi satu diantara jalan keluar terbatasnya sumber air.

Berkaitan dengan harga benih jagung hibrida, Dinas Pertanian Kehutanan Perkebunan serta Peternakan Kabupaten Serang pada TA. 2014 ini sudah menganggarkan pertolongan benih untuk pengembangan jagung hibrida seluas 200 ha.

Selain itu untuk alsin saat panen, Pemerintah Kabupaten Serang lewat DPKPP sudah membagikan biaya untuk pengadaan corn sheller serta flat bed dryer.

Pertolongan ini jadi stimulan untuk pengambangan produksi jagung pipilan di Kabupaten Serang selanjutnya. Tetapi untuk pembayaran produksi petani yg tidak segera kelihatannya butuh melibatkan pihak beda seperti instansi keuangan atau perbankan.

Sore hari, Rombongan bertolak ke Desa Margasana Kecamatan Kramatwatu. Sesudah sholat maghrib serta makan malam di RM. Tasik Kardi punya Ketua Gapoktan Keinginan Sejahtera H. Anis Fuad, diselenggarakan acara diskusi dengan perwakilan Komunitas Gapoktan Kecamatan Kramatwatu.

Komunitas Gapoktan diwakili diantaranya oleh H. Anis Fuad Ketua Poktan Gentra, Kodiman Ketua Poktan Jambangan Mas, H. Safiudin Ketua Poktan Kubang Jero, H. Wasehudin Ketua Poktan Siipik, Ajiji Ketua Poktan Sibesi, H. Sadrawi Ketua Poktan Sri Jaya Bakti II, Murtado Ketua Poktan Wisma Tani.

Jadi info, H. Anis Fuad, terkecuali jadi ayat kursi ketua grup tani Gentra, Ketua Gapoktan Keinginan Sejahtera juga adalah Asosiasi Perbenihan Banten (ASBENTEN)

Dalam acara diskusi pernah keluar persoalan kelangkaan pupuk subsidi, pemasaran benih punya penangkar, serta problem pengairan.

Problem kelangkaan pupuk subsidi, Kabupaten Serang sendiri sekarang ini memperoleh penambahan alokasi 600 ton s/d Desember 2014. Tetapi jalan keluar ini sebenarnya berbentuk periode pendek. Untuk menjangkau pertanian berkepanjangan, pertanian organik jadi pilihan yang paling logis tetapi butuh rekayasa sosial serta tehnologi yang berbentuk khusus tempat hingga sistem ke arah pertanian organik dapat lebih akseleratif.

Berkaitan dengan persoalan pemasaran benih penangkar, nampaknya beberapa pemangku kebutuhan belum juga miliki persepsi yang sama pada system penyediaan benih tanaman pangan terutama padi.

Program benih subsidi belum juga dapat sediakan benih sesuai sama preferensi petani. Berdasar pada pemantauan di lapangan, banyak penangkar-penangkar (taraf kecil) yang telah menghasilkan benih dengan varietas yang lebih bermacam serta telah teruji sesuai sama khusus tempat.

Keengganan petani lakukan sistem sertifikasi benih (kecuali untuk penangkar-penangkar taraf besar) jadikan petani itu tidak bisa turut dalam sistem supply benih pada BUMN penyalur benih subsidi.

Di bagian beda, BUMN penyalur benih, dengan terbatasnya kebun produksi, cuma dapat mensuplai benih dengan varietas terbatas seperti Ciherang, Mekongga serta IR64, yang ketahanan pada serangan OPT serta efek perubahan iklim telah makin menyusut.

Ditambah lagi, pembayaran benih dari petani penangkar tidak dengan segera yang menyebabkan petani terhalang dalam sistem produksi setelah itu.

Pada keadaan ini, asosiasi perbenihan yang baiknya bisa mengakomodasi bebrapa persoalan itu diatas diperlukan keberadaannya. Hal semacam ini sebagai basic pembentukan Asosiasi Perbenihan Banten (ASBENTEN).

Ada hal yang menarik yang di sampaikan oleh Direktur Jenderal Tanaman Pangan. Dalam pertemuan satu hari terlebih dulu pada Direktur Jenderal Tanaman Pangan bersama tim dengan Plt. Gubernur Banten, H. Rano Karno, dalam presentasinya, Dirjen Tanaman Pangan pernah mengemukakan mengenai Moderate Resolution Imaging Specradiometer atau disingkat MODIS

Cara yang diperkembang oleh NASA pertama kalinya pada th. 1999 ini pada intinya menangkap data pantulan sinar 36 spektrum dengan panjang gelombang 0, 4-14, 4 mikrometer yang dilepaskan oleh permukaan bumi pada beragam resolusi spasial. Dalam pemakaian di tempat sawah, MODIS juga akan memantulkan panjang gelombang yang berlainan untuk tiap-tiap fase perkembangan padi.

Hasil analisa ini lalu dianalisa untuk memastikan usia tanaman (standing crops). Dengan ketahui usia padi serta sebarannya bisa diperkirakan efek perubahan iklim seperti banjir serta kekeringan.

Seperti kekeringan yang berlangsung akhir-akhir ini tidak memberi efek penting di Kabupaten Serang karna usia tanaman padi telah lebih dari 3 bln. serta tak akan memerlukan air seperti pada fase vegetatif serta generatif awal tanaman padi.

Cara ini pada intinya bisa digunakan untuk memastikan type tempat sawah itu. Apabila resolusi tempat sawah itu tunjukkan fase vegetatif pada bln. kemarau jadi bisa di pastikan kalau areal tempat itu yaitu sawah irigasi.

Untuk pemetaan dengan memakai citra satelit resolusi tinggi, lokasi Kabupaten Serang seluas 145. 265, 17 ha memerlukan dana sekitaran 480 juta (Quickbird, 3 band).

Nilai nominal ini relatif kecil terlebih apabila dibanding dengan manfaat peta itu yang bisa digunakan oleh beragam bidang, bukan sekedar pertanian tempat sawah, tapi juga perkebunan, peternakan, kehutanan, pemukiman, infrastruktur jalan, tata ruangan, tempat pasar serta beda sebagainya.

Hal semacam ini pastinya terpulang kembali pada visi pemangku kebutuhan di daerah. Yang pasti info spasial bisa tingkatkan presisi data jadi info untuk pengambil kebijakan, tetapi juga bukanlah hanya satu info yang bisa dipakai. ZD

Login