melasari

Pertanian Berkelanjutan dan Pertanian Ramah Lingkungan

Dibuat : 12-10-2017, 14:12:56    Kategori : News

Petani miskin yang meningkatkan pertanian taraf kecil yaitu pengambil resiko paling besar. Pikirkan seseorang petani (wanita) miskin yang mempunyai sepatak sawah kecil. Dia beli bibit dengan tunai yang uangnya dia pinjam dari pedagang serta mesti mencari langkah buat mengontrol hama tanpa ada membunuh sayuran yang ditanamnya. Dia mesti dapat memprediksi kapan saat buat menanam serta kapan tidak untuk menanam karna alur cuaca tak akan dapat diperkirakan.

Dia tetaplah menanam walau dia paham seandainya dia menanam, jadi hasil produksi tetaplah mesti bertanding bahkan juga kalah murah dari product import dari negara-negara indsutri yang pertaniannya disubsidi negara serta meningkatkan pertanian monokultur di beberapa belahan dunia. Di umur pada 50-60 th. (umur rata-rata petania Asia Tenggara) dia berjudi tiap-tiap musimnya, sebab pertanian yaitu penghidupannya serta hanya satu penghidupan yang dia paham.

Asia Tenggara yaitu tempat tinggal untuk petani miskin taraf kecil seperti narasi si petani (wanita) yang lepas dari kesusahan yang dihadapi tetaplah menyokong bidang pertanian di area itu. Bagaimanapun laporan paling baru Oxfam bertopik “Harmless Harvest” atau “Panen Tanpa ada Menyakiti” mempertegas arti nama kalau perubahan iklim sudah mengakibatkan kerusakan kelangsungan hidup pertanian di area Asia Tenggara serta tempatkan penghidupan banyak petani miskin taraf kecil serta nelayan tradisionil dalam resiko tinggi.

Laporan itu temukan, kalau penambahan temperatur terkait dengan penurunan hasil panen padi. Menurut International Rice Research Intitute (IRRI), panen padi alami penurunan sejumlah 10 % tiap-tiap kenaikan temperatur sebesar 1%– satu angka yang menggelisahkan untuk area yang jadikan beras jadi makanan intinya.

Mengutip temuan SK Redfern serta kawan-kawan yang dipresentasikan di workshop FAO/OECD di Roma, Italia th. 2012, laporan Oxfam temukan kalau di Kamboja, Laos, Thailand, Myanmar serta Vietnam, curah hujan telah ada pada titik dibawah rata-rata mulai sejak th. 2009 menjadikan kekeringan yang berkorelasi dengan berkurangnya hasil panen serta meningkatnya persebaran hama serta penyakit.

Turunnya curah hujan yang beresiko pada ketersediaan air untuk irigasi yang begitu rendah, kecenderungan ini jadi suatu hal yang mencemaskan. Meningkatnya permukaan air laut juga sebabkan merembesnya air asin ke sumber-sumber air serta nama bayi perempuan tempat pertanian di Indonesia serta Vietnam, serta beresiko jelek pada produksi beras serta pangan yang lain, seperti diambil dari studi yang dikerjakan Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank).

Cuaca ekstrim yang terus-terusan hampiri area Asia Tenggara juga jadi kutukan sendiri untuk pertanian. Laporan dari Panel Antarpemerintah buat Perubahan Iklim (IPCC) menyebutkan kalau di Kamboja, banjir yang acapkali berlangsung serta kekeringan bertanggungjawab atas kehilangan 90% produksi pangan selama th. 1996-2001. Di 2013 serbuan topan Haiyan menghancurkan lebih dari 30 juta tanaman kelapa tempat di mana beberapa ratus ribu keluarga miskin di Filipina Tengah menggantungkan hidupnya.

Login