melasari

Jalan Keluar Asean Hadapi Perubahan Iklim

Dibuat : 12-10-2017, 14:17:26    Kategori : Rekomendasi Ekpor/Impor produk pertanian

Di sisi sebaliknya, kontribusi pertanian terhadap emisi gas rumah kaca (greenhouse gas–GHG) juga meningkat. Menurut IPCC, pertanian bertanggung jawab atas 14% dari total emisi gas rumah kaca, level emisi yang sama dengan yang dilepaskan sektor industri dan transportasi. Industri pertanian skala besar menjadi penanggung jawab utama dari emisi gas rumah kaca dari bidang pertanian ini.

Berdasarkan latar belakang ini, apa yang bisa dilakukan the Association of Southeast Asian Nations (Asean) untuk membuat petani skala kecil dan pertanian memiliki daya lenting yang baik dalam menghadapi perubahan iklim? Jawabannya adalah pada nama bayi pengembangan pertanian berkelanjutan dan pertanian ramah lingkungan. Praktik pertanian berkelanjutan adalah termasuk diversifikasi tanaman, pemupukan kompos, manajemen air yang bertanggung jawab dan rehabilitasi lahan terdegradasi.

Pertanian ramah lingkungan termasuk daur ulang biomasa untuk menambah nutrisi tanah, manajemen air secara efisien, sistem tumpang sari, dan penggunaan bibit lokal warisan tradisi. Pertanian ramah lingkungan menegakkan prinsip hubungan yang menguntungkan antara tanaman, serangga, hewan, tanah dan lingkungan sekitar untuk menjaga ekosistem tetap baik. Keduanya, baik pertanian berkelanjutan maupun pertanian ramah lingkungan mengutamakan kesejahteraan dan kelangsungan hidup petani skala kecil.

Praktik pertanian berkelanjutan dan pertanian ramah lingkungan juga merupakan cara efektif untuk beradaptasi dengan perubahan iklim dan memitigasi terhadap dampak perubahan iklim. Praktik-praktik tersebut akan membantu petani menumbuhkan tanaman pangan dalam situasi iklim yang berubah (adaptasi iklim) tanpa lebih jauh mengemisi gas rumah kaca (mitigasi iklim). Bagi pertanian, untuk bisa berkembang dalam krisis iklim yang tak pasti, Asean harus berubah ke arah pertanian berkelanjutan dan pertanian ramah lingkungan yang bisa dilakukan secara konkret dalam beberapa cara.

Pertama, Asean harus menduplikasi pertanian berkelanjutan dan pertanian ramah lingkungan di kawasan. Program seperti SRI atau System of Rice Intensification yang mengoptimalkan panen tanpa merusak nutrisi tanah dan menggunakan varietas padi yang mampu bertahan pada situasi banjir maupun kekeringan. SRI telah diterapkan di Kamboja, Vietnam dan Filipina.

Perempuan yang juga merupakan produsen pangan harus disertakan dalam program ini. Perempuan seringkali secara salah tidak dimasukkan sebagai aktor ekonomi dan karenanya seringkali ditinggalkan dalam proyek-proyek pembangunan.

Kedua, Asean harus mengembangkan pusat pengetahuan secara terpusat untuk adaptasi dan mitigasi yang memungkin negara-negara anggota untuk berbagi nama bayi laki laki dan mengakses informasik seperti dampak perubahan iklim pada pertanian dan praktik yang baik adaptasi iklim dalam pertanian.

Ketiga, Asean harus mempelajari kemungkinan dibentuknya Pendanaan Asean untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Kehancuran pertanian akibat bencana menimbulkan kerugian miliaran dolar AS. Sistem peringatan dini dan prakiraan cuaca lokal serta pengumpulan data iklim akan dapat menyelamatkan hasil pertanian dari kehancuran.

Terakhir, pemerintah nasional di Asean harus memberikan insentif kepada petani skala kecil untuk terus dapat mengadopsi praktik pertanian berkelanjutan dan pertanian ramah lingkungan. Taruhannya memang begitu besar bagi petani skala kecul di era perubahan iklim. Asean harus bertaruh kepada petani miskin dan pertanian berkelanjutan serta pertanian ramah lingkungan untuk menghadapi risiko tersebut.

Login