Tekan Serangan OPT, Kementan Gunakan Bumbung Konservasi

Rabu, 28 Agustus 2019

Thumbnails
Thumbnails

Dua puluh tahun sudah berlalu sejak pertama kali bumbung konservasi diperkenalkan melalui Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SL PHT) yang dicanangkan Kementerian Pertanian. Namun, hingga saat ini petani yang menerapkan Bumbung Konservasi ini masih terbilang sedikit.

Bumbung konservasi ini terbuat dari bambu yang diberikan lubang di setiap bukunya sebagai tempat untuk meletakkan kelompok telur penggerek batang padi dan diolesi stempet di sekitar lubang, tutur Enie Kepala Balai Besar Peramalan OPT

“Saya ingin memperkenalkan kembali sistem bumbung konservasi ini ke petani, karena banyak manfaatnya untuk menekan serangan hama,” beber Enie.

Ada dua keuntungan bila kita memanfaatkan bumbung konservasi di areal persawahan sambung Enie. “Pertama, populasi penggerek padi dapat ditekan karena kita memungut kelompok telur penggerek padi untuk disimpan di bumbung konservasi.

Kedua, parasitoid sebagai musuh alami akan tetap terjaga populasinya karena dari kelompok telur penggerek akan menetas beberapa jenis parasitoid diantaranya Telenomus rowani, Trichogramma japonicumdan, Tetrastichus schoenobii. Tingkat parasitasi dari 3 jenis parasitoid ini sekitar 6 – 60%, sambungnya.

Sudarti, salah satu POPT di Jatisari menjelaskan lebih lanjut pemanfaatan bumbung konservasi berdasarkan pada perbedaan karakter serangga yang ada di dalam kelompok telur penggerek.

“Jadi jika yang keluar dari kelompok telur adalah larva penggerek maka akan terperangkap pada stempet yang dioleskan disekitar lubang. Nah, beda lagi jika parasitoid yang keluar, maka akan terbang kembali ke alam.

Namun demikian, pemasangan bumbung konservasi ini sama sekali tidak akan bermanfaat jika petani enggan melakukan pemungutan kelompok telur dan memasukannya ke bumbung konservasi, tambah Enie. “Jadi ya harus ada kesadaran dan peran aktif petani untuk mulai menggerakkan pemakaian bumbung konservasi ini,” pungkas Enie.

Google+
Thumbnails
Thumbnails

Dua puluh tahun sudah berlalu sejak pertama kali bumbung konservasi diperkenalkan melalui Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SL PHT) yang dicanangkan Kementerian Pertanian. Namun, hingga saat ini petani yang menerapkan Bumbung Konservasi ini masih terbilang sedikit.

Bumbung konservasi ini terbuat dari bambu yang diberikan lubang di setiap bukunya sebagai tempat untuk meletakkan kelompok telur penggerek batang padi dan diolesi stempet di sekitar lubang, tutur Enie Kepala Balai Besar Peramalan OPT

“Saya ingin memperkenalkan kembali sistem bumbung konservasi ini ke petani, karena banyak manfaatnya untuk menekan serangan hama,” beber Enie.

Ada dua keuntungan bila kita memanfaatkan bumbung konservasi di areal persawahan sambung Enie. “Pertama, populasi penggerek padi dapat ditekan karena kita memungut kelompok telur penggerek padi untuk disimpan di bumbung konservasi.

Kedua, parasitoid sebagai musuh alami akan tetap terjaga populasinya karena dari kelompok telur penggerek akan menetas beberapa jenis parasitoid diantaranya Telenomus rowani, Trichogramma japonicumdan, Tetrastichus schoenobii. Tingkat parasitasi dari 3 jenis parasitoid ini sekitar 6 – 60%, sambungnya.

Sudarti, salah satu POPT di Jatisari menjelaskan lebih lanjut pemanfaatan bumbung konservasi berdasarkan pada perbedaan karakter serangga yang ada di dalam kelompok telur penggerek.

“Jadi jika yang keluar dari kelompok telur adalah larva penggerek maka akan terperangkap pada stempet yang dioleskan disekitar lubang. Nah, beda lagi jika parasitoid yang keluar, maka akan terbang kembali ke alam.

Namun demikian, pemasangan bumbung konservasi ini sama sekali tidak akan bermanfaat jika petani enggan melakukan pemungutan kelompok telur dan memasukannya ke bumbung konservasi, tambah Enie. “Jadi ya harus ada kesadaran dan peran aktif petani untuk mulai menggerakkan pemakaian bumbung konservasi ini,” pungkas Enie.

Google+
informasi lain