RAPAT KOORDINASI UPAYA KHUSUS (UPSUS) PADI, JAGUNG DAN KEDELAI TAHUN 2016

Selasa, 26 Januari 2016

Thumbnails

Pemerintah dibawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, telah mencanangkan pencapaian Swasembada Pangan Padi, Jagung dan Kedelai pada tahun 2017. Kebijakan tersebut dipopulerkan dengan sebutan Program Upaya Khusus (UPSUS) Peningkatan Produksi Padi, Jagung dan Kedelai (Pajale) melalui Program Perbaikan Jaringan Irigasi dan Sarana Pendukungnya.

Sarana pendukung dalam UPSUS peningkatan produksi tersebut meliputi Optimasi lahan, Pengembangan System of Rice Intensification (SRI), Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT) Padi, Jagung dan Kedelai, Optimasi Perluasan Areal Tanaman Kedelai melalui Peningkatan Indeks Pertanaman (PAT-PIP Kedelai), Perluasan Areal Tanam Jagung (PAT Jagung), Penyediaan Bantuan Benih, Pupuk, Alat dan Mesin Pertanian, Pengendalian OPT dan Dampak Perubahan Iklim, Asuransi Pertanian serta Pengawalan /Pendampingan.

Untuk mensukseskan program UPSUS tersebut, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Aceh menggelar rapat koordinasi Upaya Khusus (Upsus) Peningkatan Produksi Padi, Jagung dan Kedelai, berlangsung di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh selama dua hari pada 19 - 20 Januari 2016, dan diikuti 170 peserta selain dihadiri Dirjen Tanaman Pangan Kementan RI, Kodam Iskandar Muda / jajarannya, Kadistan Aceh dan jajarannya, Kepala BKPP Aceh, Kepala Balai Besar Pengujian Mutu Benih Ditjen TP pusat, Kepala  Bappeda, Kadis Pengairan,  BPS, Devre Bulog dan Dekan FP Unsyiah, Kepala BPTP Aceh juga para Kadis/Kabid se Aceh.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Dr. Ir. Hasil Sembiring, MSc dalam sambutannya memaparkan bahwa Kementerian Pertanian RI pada tahun ini telah mengalokasikan anggaran sangat besar mencapai 7,7 triliun lebih termasuk untuk kegiatan UPSUS mendukung program swasembada pangan padi, jagung dan kedelai. Kucuran dana sebesar itu tidak akan berarti, jika kita masih harus mengimpor beras untuk menjamin ketahanan pangan nasional.

Hasil juga menjelaskan secara rinci mengenai strategi dan langkah operasional yang harus ditempuh pada tahun ini. “Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi secara nasional perlu dilakukan kerjasama yang kuat dan tangguh”, katanya.

Dirjen juga memberi apresiasi yang mendalam atas keberhasilan lintas sektor yang telah mencapai target produksi 2,3 juta ton pada tahun 2015. Menurutnya, peningkatan  luas tanam untuk Provinsi Aceh tahun ini dari 510.000 ha menjadi 512.756 ha harus diiringi dengan peningkatan semangat kerja sehingga mampu memenuhi target produksi yaitu 2,55 juta ton.

Disebutkan, strategi dalam percepatan tanam antara lain dengan melakukan analisis capaian tanam bulan Oktober-Desember 2015 dibandingkan terhadap target dan realisasi Oktober-Desember 2014 dan mengkaji faktor penyebab tidak tercapainya target. Oleh karena itu perlu merencanakan kembali melalui penajaman sasaran tanam bulan Januari - Maret 2016 dengan memperhitungkan sisa tanam yang belum terealisasi pada bulan Oktober-Desember 2015 direalokasi ke bulan Januari – Maret 2016, sehingga target MT 2015/2016 dapat tercapai.

Demikian pula percepatan olah tanah dan tanam pada bulan Januari - Maret 2016 dengan cara: pengolahan tanah segera setelah panen, mobilisasi alsintan (traktor), mengoptimalkan pemanfaatan hasil rehabilitasi jaringan irigasi tahun 2015, penyemaian di luar lahan sawah, memperluas  penggunaan benih unggul berumur genjah. Selain itu mengoptimalkan pemanfaatan lahan kering untuk memperluas areal tanam, meningkatkan koordinasi dengan Dinas PU Pengairan untuk pengaturan jadwal pengairan irigasi, juga meningkatkan mobilitas penyuluhan, pendampingan dan pengawalan oleh petugas pertanian lapangan, Babinsa/TNI AD dan Mahasiswa.

“Langkah-langkah tersebut dilakukan sepanjang tahun 2016, untuk mendukung pencapaian sasaran produksi tahun 2016,” pungkasnya. 

Sementara itu Pangdam Iskandar Muda yang diwakili Kasdam Brigjen TNI Moch Fachruddin, S.Sos yang mengawali sambutan dan sekaligus membuka acara rakor, mengajak semua pihak untuk sukseskan kegiatan program Upaya Khusus (UPSUS) padi, jagung dan kedelai tahun 2016 guna mendukung swasembada pangan di Aceh.

"Mari kita bekerjasama bahu membahu membantu petani dengan pengawalan secara ketat terhadap ketersediaan sarana dan prasarana produksi padi, khususnya benih bermutu dan pupuk di tingkat petani. Karena itu salah satu faktor utama pendukung keberhasilan dalam upaya peningkatan produksi", ujarnya bersemangat.

Kasdam lebih lanjut menegaskan untuk bekerja secara profesional lebih cepat dan tepat sasaran dalam menangani berbagai persoalan yang terjadi di lapangan. "Walaupun kesulitan dan tantangan ke depan semakin berat, saya berharap pertemuan ini dapat menyamakan persepsi dan bersinergi mendukung target produksi 2,55 juta ton gabah untuk tahun ini", ajaknya mengingatkan.

Menurut laporan ketua panitia penyelenggara Mukhlis, SP, MA, tujuan  rapat koordinasi upsus selain mereview dan mengkomunikasikan luas lahan juga sinkronisasi terhadap data luas tanam dan jadwal tanam MT 2016 yang telah ditetapkan dari 510.000 ha menjadi 512.756 ha.  Lebih lanjut ia menambahkan bahwa posisi Aceh yang saat ini menduduki prestasi ranking empat nasional semoga dapat dipertahankan dan tidak tertutup kemungkinan Aceh mampu merebut ranking pertama nasional tahun ini. Mukhlis yang juga selaku Kasi Peningkatan Produksi Padi dan Palawija menyatakan bahwa target yang telah ditetapkan merupakan upaya merubah tantangan menjadi peluang dan harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. "Saya sangat yakin kita mampu mendongkrak produksi dan dapat meraih prestasi terbaik secara nasional" ujarnya penuh optimis yang disambut aplaus dari peserta Rakor.

Ditambahkan bahwa  peran penyuluhan dalam transfer teknologi telah terbukti meningkatnya produksi menjadi 2,3 juta ton tahun 2015. Selain itu, ia mengajak para Babinsa TNI, mantri tani, petugas POPT dan seluruh elemen di kab/kota untuk menjalin koordinasi yang lebih mantap lagi, agar kita bisa tingkatkan produksi, jelas Mukhlis.

Cetak Sawah Baru

Aceh Selatan, Sebagai salah satu bagian dari program swasembada pangan yang dilaksanakan oleh Satuan Komando Kewilayahan (Satkowil), Komando Distrik Militer (Kodim) 0107/Aceh Selatan siap untuk mensukseskan program cetak sawah baru di wilayah Aceh Selatan.

Dandim 0107/Asel Letkol Inf Hasandi Lubis, Selasa, (19/1) saat di Makodim menjelaskan, cetak sawah yang di laksanakan oleh Kodim, ada 10 Kecamatan yang tersebar dengan luas cetak sawah 600 Ha yang terdiri dari Kecamatan, Labuhan Haji barat seluas 10 Ha, Sawang 15 Ha, Samadua 10 Ha, Pasie Raja 60 Ha, Kluet Tengah 50 Ha, Kluet Selatan 290 Ha, Kota Bahagia 60 Ha, Bakongan Timur 70 Ha, Trumon 15 Ha dan Trumon Tengah 20 Ha.

Dikatakan, untuk mensukseskan program cetak sawah tersebut, pihaknya akan melibatkan masyarakat setempat untuk mengambil salah satu peran agar target perluasan lahan persawahan tercapai. Dandim juga menyampaikan agar terjaminnya program cetak sawah baru ini, Kodim akan melaksanakan dengan baik dan benar, mengikuti pedoman yang ada didalam penyelenggaraan, sehingga sasaran yang ditetapkan dapat tercapai secara optimal, ujarnya.

Sementara itu Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh, Ir. Basri A. Bakar, Msi dalam sesi pemaparannya bersama Kepala BPS Aceh dan Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Aceh mengatakan, pihaknya siap melakukan pendampingan teknologi antara lain introduksi varietas unggul, sistem tanam dan  pemupukan berimbang. “Saya optimis produksi padi tahun 2016 bisa dicapai sesuai target jika semua pihak bekerja keras dan sering turun ke lapangan. Kalau berhasil nanti, maka itu keberhasilan kita semua,” paparnya.

Kadistan Provinsi Aceh Prof Dr Ir Abubakar Karim, MS pada Rapat Koordinasi Perluasan Sawah menyampaikan bahwa kondisi pembangunan pertanian ke depan akan menghadapi beberapa persoalan besar berkaitan dengan masalah kekurangan pangan akibat pertumbuhan penduduk yang tak terkendali. Sementara kemampuan untuk menambah kapasitas produksi pangan semakin berkurang.

Abubakar menambahkan, dalam rangka peningkatan produksi pangan guna memenuhi kebutuhan masyarakat, saat ini dihadapkan pada perubahan iklim global serta alih fungsi lahan pertanian. Dua fenomena tersebut secara langsung akan berdampak pada penurunan produksi dan kapasitas sumberdaya lahan dan air, yang akhirnya akan berpengaruh terhadap ketahanan pangan nasional.

“Dengan disahkannya UU 41 tahun 2009 telah memberi perlindungan dan kepastian hukum terhadap eksistensi dan ketersediaan lahan pangan yang berkelanjutan, sebagai basis untuk kelangsungan sistem produksi pangan nasional,” sebutnya.

Dikatakan pula bahwa kegiatan perluasan sawah mulai perencanaan dan pengawasan dilaksanakan SKPD dan pelaksanaannya dikerjasamakan berdasarkan Nota Kesepahaman antara Menteri Pertanian RI dengan Kepala Staf TNI AD. “Untuk Provinsi Aceh, pelaksanaan kegiatan perluasan sawah pada tahun 2016 seluas 15.125 ha yang tersebar di 14 kabupaten/kota”, ujarnya.

Ia mengharapkan kepada para pengambil kebijakan berdasarkan UU tersebut agar dapat mengurangi alih fungsi lahan melalui reward and punishment. Dijelaskan instrument reward diwujudkan dalam bentuk insentif kepada para petani, sedangkan punishment berupa penerapan sanksi pidana sebagai upaya penegakan hukum (law enforcement)”, tegasnya.   

TNI Siap Membantu

Pada saat yang sama Kasdam IM, Brigjen TNI Moch Fakhruddin, S. Sos menyambut positif dan akan membantu operasionalnya di lapangan dengan melibatkan para Dandim dan Babinsa untuk mengambil tindakan tegas. Sementara ini pihaknya akan terlibat langsung untuk membantu  perluasan sawah demi ketahanan pangan dan stabilitas. ”Kami siap mendukung dengan mengerahkan semua anggota bergotong royong tanpa mengharapkan pamrih”, ujar Kasdam bersemangat.

Selanjutnya Kasdam IM dan Kadistan, Dekan FP Unsyiah, serta Kasubdit Perluasan Lahan Kementan RI menjadi saksi penandatangan MoU kerjasama perluasan sawah untuk 14 SKP masing masing kab/kota. Sebelumnya Senin (18/01/2016) Jajaran Kodim 0116/Nagan Raya juga telah menandatangani pakta integritas bersama Camat Tadu Raya dan Kepala BPK setempat tentang pencapaian peningkatan produksi swasembada pangan.  (Humas TP/RR)

Google+
Thumbnails

Pemerintah dibawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, telah mencanangkan pencapaian Swasembada Pangan Padi, Jagung dan Kedelai pada tahun 2017. Kebijakan tersebut dipopulerkan dengan sebutan Program Upaya Khusus (UPSUS) Peningkatan Produksi Padi, Jagung dan Kedelai (Pajale) melalui Program Perbaikan Jaringan Irigasi dan Sarana Pendukungnya.

Sarana pendukung dalam UPSUS peningkatan produksi tersebut meliputi Optimasi lahan, Pengembangan System of Rice Intensification (SRI), Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT) Padi, Jagung dan Kedelai, Optimasi Perluasan Areal Tanaman Kedelai melalui Peningkatan Indeks Pertanaman (PAT-PIP Kedelai), Perluasan Areal Tanam Jagung (PAT Jagung), Penyediaan Bantuan Benih, Pupuk, Alat dan Mesin Pertanian, Pengendalian OPT dan Dampak Perubahan Iklim, Asuransi Pertanian serta Pengawalan /Pendampingan.

Untuk mensukseskan program UPSUS tersebut, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Aceh menggelar rapat koordinasi Upaya Khusus (Upsus) Peningkatan Produksi Padi, Jagung dan Kedelai, berlangsung di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh selama dua hari pada 19 - 20 Januari 2016, dan diikuti 170 peserta selain dihadiri Dirjen Tanaman Pangan Kementan RI, Kodam Iskandar Muda / jajarannya, Kadistan Aceh dan jajarannya, Kepala BKPP Aceh, Kepala Balai Besar Pengujian Mutu Benih Ditjen TP pusat, Kepala  Bappeda, Kadis Pengairan,  BPS, Devre Bulog dan Dekan FP Unsyiah, Kepala BPTP Aceh juga para Kadis/Kabid se Aceh.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Dr. Ir. Hasil Sembiring, MSc dalam sambutannya memaparkan bahwa Kementerian Pertanian RI pada tahun ini telah mengalokasikan anggaran sangat besar mencapai 7,7 triliun lebih termasuk untuk kegiatan UPSUS mendukung program swasembada pangan padi, jagung dan kedelai. Kucuran dana sebesar itu tidak akan berarti, jika kita masih harus mengimpor beras untuk menjamin ketahanan pangan nasional.

Hasil juga menjelaskan secara rinci mengenai strategi dan langkah operasional yang harus ditempuh pada tahun ini. “Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi secara nasional perlu dilakukan kerjasama yang kuat dan tangguh”, katanya.

Dirjen juga memberi apresiasi yang mendalam atas keberhasilan lintas sektor yang telah mencapai target produksi 2,3 juta ton pada tahun 2015. Menurutnya, peningkatan  luas tanam untuk Provinsi Aceh tahun ini dari 510.000 ha menjadi 512.756 ha harus diiringi dengan peningkatan semangat kerja sehingga mampu memenuhi target produksi yaitu 2,55 juta ton.

Disebutkan, strategi dalam percepatan tanam antara lain dengan melakukan analisis capaian tanam bulan Oktober-Desember 2015 dibandingkan terhadap target dan realisasi Oktober-Desember 2014 dan mengkaji faktor penyebab tidak tercapainya target. Oleh karena itu perlu merencanakan kembali melalui penajaman sasaran tanam bulan Januari - Maret 2016 dengan memperhitungkan sisa tanam yang belum terealisasi pada bulan Oktober-Desember 2015 direalokasi ke bulan Januari – Maret 2016, sehingga target MT 2015/2016 dapat tercapai.

Demikian pula percepatan olah tanah dan tanam pada bulan Januari - Maret 2016 dengan cara: pengolahan tanah segera setelah panen, mobilisasi alsintan (traktor), mengoptimalkan pemanfaatan hasil rehabilitasi jaringan irigasi tahun 2015, penyemaian di luar lahan sawah, memperluas  penggunaan benih unggul berumur genjah. Selain itu mengoptimalkan pemanfaatan lahan kering untuk memperluas areal tanam, meningkatkan koordinasi dengan Dinas PU Pengairan untuk pengaturan jadwal pengairan irigasi, juga meningkatkan mobilitas penyuluhan, pendampingan dan pengawalan oleh petugas pertanian lapangan, Babinsa/TNI AD dan Mahasiswa.

“Langkah-langkah tersebut dilakukan sepanjang tahun 2016, untuk mendukung pencapaian sasaran produksi tahun 2016,” pungkasnya. 

Sementara itu Pangdam Iskandar Muda yang diwakili Kasdam Brigjen TNI Moch Fachruddin, S.Sos yang mengawali sambutan dan sekaligus membuka acara rakor, mengajak semua pihak untuk sukseskan kegiatan program Upaya Khusus (UPSUS) padi, jagung dan kedelai tahun 2016 guna mendukung swasembada pangan di Aceh.

"Mari kita bekerjasama bahu membahu membantu petani dengan pengawalan secara ketat terhadap ketersediaan sarana dan prasarana produksi padi, khususnya benih bermutu dan pupuk di tingkat petani. Karena itu salah satu faktor utama pendukung keberhasilan dalam upaya peningkatan produksi", ujarnya bersemangat.

Kasdam lebih lanjut menegaskan untuk bekerja secara profesional lebih cepat dan tepat sasaran dalam menangani berbagai persoalan yang terjadi di lapangan. "Walaupun kesulitan dan tantangan ke depan semakin berat, saya berharap pertemuan ini dapat menyamakan persepsi dan bersinergi mendukung target produksi 2,55 juta ton gabah untuk tahun ini", ajaknya mengingatkan.

Menurut laporan ketua panitia penyelenggara Mukhlis, SP, MA, tujuan  rapat koordinasi upsus selain mereview dan mengkomunikasikan luas lahan juga sinkronisasi terhadap data luas tanam dan jadwal tanam MT 2016 yang telah ditetapkan dari 510.000 ha menjadi 512.756 ha.  Lebih lanjut ia menambahkan bahwa posisi Aceh yang saat ini menduduki prestasi ranking empat nasional semoga dapat dipertahankan dan tidak tertutup kemungkinan Aceh mampu merebut ranking pertama nasional tahun ini. Mukhlis yang juga selaku Kasi Peningkatan Produksi Padi dan Palawija menyatakan bahwa target yang telah ditetapkan merupakan upaya merubah tantangan menjadi peluang dan harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. "Saya sangat yakin kita mampu mendongkrak produksi dan dapat meraih prestasi terbaik secara nasional" ujarnya penuh optimis yang disambut aplaus dari peserta Rakor.

Ditambahkan bahwa  peran penyuluhan dalam transfer teknologi telah terbukti meningkatnya produksi menjadi 2,3 juta ton tahun 2015. Selain itu, ia mengajak para Babinsa TNI, mantri tani, petugas POPT dan seluruh elemen di kab/kota untuk menjalin koordinasi yang lebih mantap lagi, agar kita bisa tingkatkan produksi, jelas Mukhlis.

Cetak Sawah Baru

Aceh Selatan, Sebagai salah satu bagian dari program swasembada pangan yang dilaksanakan oleh Satuan Komando Kewilayahan (Satkowil), Komando Distrik Militer (Kodim) 0107/Aceh Selatan siap untuk mensukseskan program cetak sawah baru di wilayah Aceh Selatan.

Dandim 0107/Asel Letkol Inf Hasandi Lubis, Selasa, (19/1) saat di Makodim menjelaskan, cetak sawah yang di laksanakan oleh Kodim, ada 10 Kecamatan yang tersebar dengan luas cetak sawah 600 Ha yang terdiri dari Kecamatan, Labuhan Haji barat seluas 10 Ha, Sawang 15 Ha, Samadua 10 Ha, Pasie Raja 60 Ha, Kluet Tengah 50 Ha, Kluet Selatan 290 Ha, Kota Bahagia 60 Ha, Bakongan Timur 70 Ha, Trumon 15 Ha dan Trumon Tengah 20 Ha.

Dikatakan, untuk mensukseskan program cetak sawah tersebut, pihaknya akan melibatkan masyarakat setempat untuk mengambil salah satu peran agar target perluasan lahan persawahan tercapai. Dandim juga menyampaikan agar terjaminnya program cetak sawah baru ini, Kodim akan melaksanakan dengan baik dan benar, mengikuti pedoman yang ada didalam penyelenggaraan, sehingga sasaran yang ditetapkan dapat tercapai secara optimal, ujarnya.

Sementara itu Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh, Ir. Basri A. Bakar, Msi dalam sesi pemaparannya bersama Kepala BPS Aceh dan Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Aceh mengatakan, pihaknya siap melakukan pendampingan teknologi antara lain introduksi varietas unggul, sistem tanam dan  pemupukan berimbang. “Saya optimis produksi padi tahun 2016 bisa dicapai sesuai target jika semua pihak bekerja keras dan sering turun ke lapangan. Kalau berhasil nanti, maka itu keberhasilan kita semua,” paparnya.

Kadistan Provinsi Aceh Prof Dr Ir Abubakar Karim, MS pada Rapat Koordinasi Perluasan Sawah menyampaikan bahwa kondisi pembangunan pertanian ke depan akan menghadapi beberapa persoalan besar berkaitan dengan masalah kekurangan pangan akibat pertumbuhan penduduk yang tak terkendali. Sementara kemampuan untuk menambah kapasitas produksi pangan semakin berkurang.

Abubakar menambahkan, dalam rangka peningkatan produksi pangan guna memenuhi kebutuhan masyarakat, saat ini dihadapkan pada perubahan iklim global serta alih fungsi lahan pertanian. Dua fenomena tersebut secara langsung akan berdampak pada penurunan produksi dan kapasitas sumberdaya lahan dan air, yang akhirnya akan berpengaruh terhadap ketahanan pangan nasional.

“Dengan disahkannya UU 41 tahun 2009 telah memberi perlindungan dan kepastian hukum terhadap eksistensi dan ketersediaan lahan pangan yang berkelanjutan, sebagai basis untuk kelangsungan sistem produksi pangan nasional,” sebutnya.

Dikatakan pula bahwa kegiatan perluasan sawah mulai perencanaan dan pengawasan dilaksanakan SKPD dan pelaksanaannya dikerjasamakan berdasarkan Nota Kesepahaman antara Menteri Pertanian RI dengan Kepala Staf TNI AD. “Untuk Provinsi Aceh, pelaksanaan kegiatan perluasan sawah pada tahun 2016 seluas 15.125 ha yang tersebar di 14 kabupaten/kota”, ujarnya.

Ia mengharapkan kepada para pengambil kebijakan berdasarkan UU tersebut agar dapat mengurangi alih fungsi lahan melalui reward and punishment. Dijelaskan instrument reward diwujudkan dalam bentuk insentif kepada para petani, sedangkan punishment berupa penerapan sanksi pidana sebagai upaya penegakan hukum (law enforcement)”, tegasnya.   

TNI Siap Membantu

Pada saat yang sama Kasdam IM, Brigjen TNI Moch Fakhruddin, S. Sos menyambut positif dan akan membantu operasionalnya di lapangan dengan melibatkan para Dandim dan Babinsa untuk mengambil tindakan tegas. Sementara ini pihaknya akan terlibat langsung untuk membantu  perluasan sawah demi ketahanan pangan dan stabilitas. ”Kami siap mendukung dengan mengerahkan semua anggota bergotong royong tanpa mengharapkan pamrih”, ujar Kasdam bersemangat.

Selanjutnya Kasdam IM dan Kadistan, Dekan FP Unsyiah, serta Kasubdit Perluasan Lahan Kementan RI menjadi saksi penandatangan MoU kerjasama perluasan sawah untuk 14 SKP masing masing kab/kota. Sebelumnya Senin (18/01/2016) Jajaran Kodim 0116/Nagan Raya juga telah menandatangani pakta integritas bersama Camat Tadu Raya dan Kepala BPK setempat tentang pencapaian peningkatan produksi swasembada pangan.  (Humas TP/RR)

Google+
informasi lain