Mengenal Penyakit Layu Stewart (Stewart Wilt) Pada Tanaman Jagung

Selasa, 24 November 2015

Thumbnails

1. Pendahuluan

Penyakit layu stewart pada tanaman jagung disebabkan oleh bakteri Pantoea stewartii subsp.stewartii (Pss) merupakan penyakit penting dan baru di Indonesia. Penyakit ini tergolong berbahaya, di Amerika Serikat dilaporkan dapat menyebabkan kehilangan hasil berkisar antara 15-95%. Penyakit layu stewart merupakan penyakit tular benih yang penting pada jagung, karena benih merupakan alat transportasi yang paling cocok untuk menyebar melintasi batasan alaminya (Neergaard, 1977). Saat ini penyakit layu stewart tersebar di banyak negara seperti Eropa (Austria), Amerika (Bolivia, Brazil, Canada, Costa Rica, Guyana, Mexico, Peru, Puerto Rica, dan USA), Asia (Cina, India, Malaysia, Thailand, Vietnam), (Shurtleff,1980). Resiko dari penularan patogen melalui benih sangatlah penting, terutama dalam pengiriman benih internasional. Lebih dari 50 negara telah melarang impor benih jagung dari Amerika Serikat. Berdasarkan peraturan Menteri Pertanian nomor 51/Permentan/KR.010/9/2015, Bakteri ini termasuk ke dalam Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) Kategori A1 dan Golongan 1. Penyakit ini sudah ditemukan di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Lombok. Khairul dan Rahma (2007) telah mendeteksi keberadaan bakteri ini di pertanaman jagung di Sumatera Barat dengan insidensi penyakit berkisar 4-10%. Dengan semakin meningkatnya lalu lintas perdagangan benih dewasa ini dan belum memadainya perangkat pengujian kesehatan benih di Indonesia, dikhawatirkan penyakit ini telah masuk dan tersebar. Penyakit layu stewart tergolong sulit dikendalikan, karena menyerang tanaman pada berbagai fase pertumbuhan, bersifat tular benih dan tular serangga. Sampai saat ini usaha pengendalian penyakit ini masih menggunakan insektisida sintetis yang mengandung imidachlopriod untuk seed treatment (Stack, et al, 2006), namun dikhawatirkan penggunaan bahan ini akan mempercepat pencemaran lingkungan. Sesuai dengan program pertanian berkelanjutan yang diterapkan di Indonesia maka teknik pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) harus mengacu pada Pengendalian Hama dan Penyakit secara Terpadu (PHT). Salah satu komponen utama dari program PHT adalah pengendalian hayati dengan memanfaatkan agensia pengendalian hayati indigenous. Keuntungan penggunaan agensia hayati antara lain: dapat diperbaharui, memanfaatkan sumber daya lokal, dapat diperbanyak dengan teknologi yang sederhana dan mudah cara aplikasinya.

 

Selengkapnya

Google+
Thumbnails

1. Pendahuluan

Penyakit layu stewart pada tanaman jagung disebabkan oleh bakteri Pantoea stewartii subsp.stewartii (Pss) merupakan penyakit penting dan baru di Indonesia. Penyakit ini tergolong berbahaya, di Amerika Serikat dilaporkan dapat menyebabkan kehilangan hasil berkisar antara 15-95%. Penyakit layu stewart merupakan penyakit tular benih yang penting pada jagung, karena benih merupakan alat transportasi yang paling cocok untuk menyebar melintasi batasan alaminya (Neergaard, 1977). Saat ini penyakit layu stewart tersebar di banyak negara seperti Eropa (Austria), Amerika (Bolivia, Brazil, Canada, Costa Rica, Guyana, Mexico, Peru, Puerto Rica, dan USA), Asia (Cina, India, Malaysia, Thailand, Vietnam), (Shurtleff,1980). Resiko dari penularan patogen melalui benih sangatlah penting, terutama dalam pengiriman benih internasional. Lebih dari 50 negara telah melarang impor benih jagung dari Amerika Serikat. Berdasarkan peraturan Menteri Pertanian nomor 51/Permentan/KR.010/9/2015, Bakteri ini termasuk ke dalam Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) Kategori A1 dan Golongan 1. Penyakit ini sudah ditemukan di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Lombok. Khairul dan Rahma (2007) telah mendeteksi keberadaan bakteri ini di pertanaman jagung di Sumatera Barat dengan insidensi penyakit berkisar 4-10%. Dengan semakin meningkatnya lalu lintas perdagangan benih dewasa ini dan belum memadainya perangkat pengujian kesehatan benih di Indonesia, dikhawatirkan penyakit ini telah masuk dan tersebar. Penyakit layu stewart tergolong sulit dikendalikan, karena menyerang tanaman pada berbagai fase pertumbuhan, bersifat tular benih dan tular serangga. Sampai saat ini usaha pengendalian penyakit ini masih menggunakan insektisida sintetis yang mengandung imidachlopriod untuk seed treatment (Stack, et al, 2006), namun dikhawatirkan penggunaan bahan ini akan mempercepat pencemaran lingkungan. Sesuai dengan program pertanian berkelanjutan yang diterapkan di Indonesia maka teknik pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) harus mengacu pada Pengendalian Hama dan Penyakit secara Terpadu (PHT). Salah satu komponen utama dari program PHT adalah pengendalian hayati dengan memanfaatkan agensia pengendalian hayati indigenous. Keuntungan penggunaan agensia hayati antara lain: dapat diperbaharui, memanfaatkan sumber daya lokal, dapat diperbanyak dengan teknologi yang sederhana dan mudah cara aplikasinya.

 

Selengkapnya

Google+
iptek lain