Pro Kontra Produk Pangan Rekayasa Genetika*

Rabu, 30 November 2016

Thumbnails

Upaya – upaya produksi pangan terus dilakukan seiring kebutuhan pangan yang bertambah karena pertumbuhan penduduk. Setelah revolusi hijau dan biru yang belakangan ini mulai menimbulkan masalah, masyarakat mulai beralih mengembangkan produk rekayasa genetika. Ilmu pengetahuan dalam bidang rekayasa genetika tanaman mengalami perkembangan yang luar biasa. Perkembangannya diharapkan mampu memberikan solusi atas berbagai permasalahan baik dari segi sandang, pangan, dan papan yang secara konvensional tidak mampu memberikan konstribusi yang maksimal. Adanya produk hasil rekayasa tanaman memiliki tujuan untuk mengatasi kelaparan, defisiensi nutrisi, peningkatan produktivitas tanaman, ketahanan terhadap cekaman lingkungan yang ekstrem, dan lain-lain (Amin et al., 2011a). Namun produk rekayasa genetika bukannya tanpa masalah, karena ternyata banyak sekali menuai pro dan kontra.

 

Tujuan dan Manfaat Produk Rekayasa Genetika

            Berikut ini adalah beberapa tujuan dan mafaat digunakannya produk-produk pangan rekayasa genetika :

  1. Menghasilkan Produk pangan yang “sempurna” yang memiliki sifat tahan terhadap hama dan herbisida termasuk yang disebabkan oleh virus
  2. Menghasilkan Produk pangan yang memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi dan lengkap.
  3. Menghasilkan produk pangan memiliki umur simpan yang jauh lebih panjang pada teknik penyimpanan minimal.
  4. Menghemat pemanfaatan lahan pertanianMeningkatkan rendemen dan produktivitas, mengurangi resiko gagal panen, mereduksi kehilangan dan kerusakan pasca panen
  5. Mereduksi kebutuhan jumlah pestisida dan pupuk kimia
  6. Menghasilkan tanaman yang tidak menyebabkan alergi pada manusia, tanaman dengan kadar asam lemak trans rendah, mampu menyerap cemaran logam berat dari tanah , dan tanaman yang memiliki kandungan vaksin atau seyawa lain yang dapat mengatasi berbagai penyakit.

 

Isu Negatif Produk Pangan Rekayasa Genetika

  1. Kekhawatiran adanya aliran gen dari tanaman transgenik ke tanaman gulma dan tanaman lainnya yang dapat menyebabkan tanaman gulma lebih sulit dikendalikan dari sebelumnya.
  2. Tanaman transgenik yang resisten dapat kehilangan sifat resistensinya sehingga petani harus menggunakan bahan kimia beracun yang lebih toksik untuk memberantas hama/gulma.
  3. Kedelai transgenik yang diintroduksi dengan gen penghasil protein metionin menyebabkan alergi.
  4. Tanaman hasil rekayasa genetika juga diduga bersifat karsinogenik atau berpotensi menyebabkan kanker, serta minim gizi karena kandungannya telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menghilangkan beberapa kandungan alami produk hasil olahannya (Syamsi, 2014)
  5. Ternak yang diberi makan kentang dan tomat hasil rekayasa genetika mengalami perubahan dalam perutnya yang mengindikasikan pada kanker, kerusakan ginjal dan organ tubuh lainnya, serta perkembangan otak yang lambat
  6. Tanaman transgenik yang diintroduksi dengan antibiotik Kanamicyn R (Kan R) bila dikonsumsi manusia disinyalir dapat mengakibatkan resistensi bakteri dalam tubuh akibat pemaparan dengan antibiotik secara kontinu (Karmana, 2009). Akibatnya, penggunaan antibiotik untuk menyembuhkan penyakit menjadi tidak ampuh lagi .
  7. Dari studi yang dilakukan oleh Gilles-Eric Seralini dari Universitas Caen pada tahun 2009 terhadap tikus percobaan yang mengkonsumsi pangan hasil rekayasa genetika dalam jangka panjang, dari 50% tikus jantan dan 70% tikus betina menderita kematian prematur; tikus yang diminumkan minuman yang mengandung herbisida mengalami peningkatan ukuran tumor sebesar 200% hingga 300%; sementara tikus yang diberi makan jagung transgenik menderita kerusakan pada sejumlah organ termasuk kerusakan hati dan ginjal (Khalifamart, 2013)
  8. Putzai dari Inggris pada tahun 1998 juga melakukan penelitian terhadap tikus yang diberi pakan kentang transgenik dan menemukan munculnya gejala kekerdilan dan imunodepresi (Haryanti, 2012).
  9. Kekhawatiran akan terjadinya pergeseran penguasaan benih dari yang semula milik umum atau common property, dalam hal ini petani menjadi pemilik benih yang bisa disimpan dan ditanam berulang kali, menjadi milik beberapa perusahaan besar multinasional (sejauh ini ada enam perusahaan multinasional (Sandoz (sekarang Syngenta), Monsanto, DuPont, Bayer, Advanta, Limagrain dan BASF yang memonopoli benih transgenik komersial) (Santosa, 2000).

 

Saran Penggunaan Pangan Rekayasa Genetika

            Untuk menjembatani pro dan kontra penggunaan pangan rekayasa genetika, maka ada beberapa saran yang dapat dilakukan agar konsumen dapat menentukan pilihan apakah akan menggunakan produk pangan rekayasa genetika, di antaranya :

  1. Produsen harus memberi pilihan pada konsumen. Caranya dengan pencantuman label Pangan Rekayasa Genetika.
  2. Perlu disebarkan berbagai informasi yang seimbang ke masyarakat dalam rangka membentuk opini yang positif terhadap produk transgenik.
  3. Perlu dibuktikan bahwa teknologi yang digunakan dapat memuaskan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
  4. Mengenai kehalalan Pangan Rekayasa Genetika, Badan sertifikasi halal, dalam hal ini MUI, perlu benar-benar mengetahui sumber gen yang digunakan dalam PRG sehingga produk tersebut dapat dikatakan halal.

 

  • Penulis adalah Mochammad Irfan Soleh, S. Si PMHP Ahli Muda (Fungsional Balai Pengujian Mutu Produk Tanaman-Ditjen Tanaman Pangan)

Google+
Thumbnails

Upaya – upaya produksi pangan terus dilakukan seiring kebutuhan pangan yang bertambah karena pertumbuhan penduduk. Setelah revolusi hijau dan biru yang belakangan ini mulai menimbulkan masalah, masyarakat mulai beralih mengembangkan produk rekayasa genetika. Ilmu pengetahuan dalam bidang rekayasa genetika tanaman mengalami perkembangan yang luar biasa. Perkembangannya diharapkan mampu memberikan solusi atas berbagai permasalahan baik dari segi sandang, pangan, dan papan yang secara konvensional tidak mampu memberikan konstribusi yang maksimal. Adanya produk hasil rekayasa tanaman memiliki tujuan untuk mengatasi kelaparan, defisiensi nutrisi, peningkatan produktivitas tanaman, ketahanan terhadap cekaman lingkungan yang ekstrem, dan lain-lain (Amin et al., 2011a). Namun produk rekayasa genetika bukannya tanpa masalah, karena ternyata banyak sekali menuai pro dan kontra.

 

Tujuan dan Manfaat Produk Rekayasa Genetika

            Berikut ini adalah beberapa tujuan dan mafaat digunakannya produk-produk pangan rekayasa genetika :

  1. Menghasilkan Produk pangan yang “sempurna” yang memiliki sifat tahan terhadap hama dan herbisida termasuk yang disebabkan oleh virus
  2. Menghasilkan Produk pangan yang memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi dan lengkap.
  3. Menghasilkan produk pangan memiliki umur simpan yang jauh lebih panjang pada teknik penyimpanan minimal.
  4. Menghemat pemanfaatan lahan pertanianMeningkatkan rendemen dan produktivitas, mengurangi resiko gagal panen, mereduksi kehilangan dan kerusakan pasca panen
  5. Mereduksi kebutuhan jumlah pestisida dan pupuk kimia
  6. Menghasilkan tanaman yang tidak menyebabkan alergi pada manusia, tanaman dengan kadar asam lemak trans rendah, mampu menyerap cemaran logam berat dari tanah , dan tanaman yang memiliki kandungan vaksin atau seyawa lain yang dapat mengatasi berbagai penyakit.

 

Isu Negatif Produk Pangan Rekayasa Genetika

  1. Kekhawatiran adanya aliran gen dari tanaman transgenik ke tanaman gulma dan tanaman lainnya yang dapat menyebabkan tanaman gulma lebih sulit dikendalikan dari sebelumnya.
  2. Tanaman transgenik yang resisten dapat kehilangan sifat resistensinya sehingga petani harus menggunakan bahan kimia beracun yang lebih toksik untuk memberantas hama/gulma.
  3. Kedelai transgenik yang diintroduksi dengan gen penghasil protein metionin menyebabkan alergi.
  4. Tanaman hasil rekayasa genetika juga diduga bersifat karsinogenik atau berpotensi menyebabkan kanker, serta minim gizi karena kandungannya telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menghilangkan beberapa kandungan alami produk hasil olahannya (Syamsi, 2014)
  5. Ternak yang diberi makan kentang dan tomat hasil rekayasa genetika mengalami perubahan dalam perutnya yang mengindikasikan pada kanker, kerusakan ginjal dan organ tubuh lainnya, serta perkembangan otak yang lambat
  6. Tanaman transgenik yang diintroduksi dengan antibiotik Kanamicyn R (Kan R) bila dikonsumsi manusia disinyalir dapat mengakibatkan resistensi bakteri dalam tubuh akibat pemaparan dengan antibiotik secara kontinu (Karmana, 2009). Akibatnya, penggunaan antibiotik untuk menyembuhkan penyakit menjadi tidak ampuh lagi .
  7. Dari studi yang dilakukan oleh Gilles-Eric Seralini dari Universitas Caen pada tahun 2009 terhadap tikus percobaan yang mengkonsumsi pangan hasil rekayasa genetika dalam jangka panjang, dari 50% tikus jantan dan 70% tikus betina menderita kematian prematur; tikus yang diminumkan minuman yang mengandung herbisida mengalami peningkatan ukuran tumor sebesar 200% hingga 300%; sementara tikus yang diberi makan jagung transgenik menderita kerusakan pada sejumlah organ termasuk kerusakan hati dan ginjal (Khalifamart, 2013)
  8. Putzai dari Inggris pada tahun 1998 juga melakukan penelitian terhadap tikus yang diberi pakan kentang transgenik dan menemukan munculnya gejala kekerdilan dan imunodepresi (Haryanti, 2012).
  9. Kekhawatiran akan terjadinya pergeseran penguasaan benih dari yang semula milik umum atau common property, dalam hal ini petani menjadi pemilik benih yang bisa disimpan dan ditanam berulang kali, menjadi milik beberapa perusahaan besar multinasional (sejauh ini ada enam perusahaan multinasional (Sandoz (sekarang Syngenta), Monsanto, DuPont, Bayer, Advanta, Limagrain dan BASF yang memonopoli benih transgenik komersial) (Santosa, 2000).

 

Saran Penggunaan Pangan Rekayasa Genetika

            Untuk menjembatani pro dan kontra penggunaan pangan rekayasa genetika, maka ada beberapa saran yang dapat dilakukan agar konsumen dapat menentukan pilihan apakah akan menggunakan produk pangan rekayasa genetika, di antaranya :

  1. Produsen harus memberi pilihan pada konsumen. Caranya dengan pencantuman label Pangan Rekayasa Genetika.
  2. Perlu disebarkan berbagai informasi yang seimbang ke masyarakat dalam rangka membentuk opini yang positif terhadap produk transgenik.
  3. Perlu dibuktikan bahwa teknologi yang digunakan dapat memuaskan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
  4. Mengenai kehalalan Pangan Rekayasa Genetika, Badan sertifikasi halal, dalam hal ini MUI, perlu benar-benar mengetahui sumber gen yang digunakan dalam PRG sehingga produk tersebut dapat dikatakan halal.

 

  • Penulis adalah Mochammad Irfan Soleh, S. Si PMHP Ahli Muda (Fungsional Balai Pengujian Mutu Produk Tanaman-Ditjen Tanaman Pangan)

Google+
iptek lain