Bantul (21/08), Kementerian Pertanian bersama Dinas Pertanian Provinsi serta Dinas Pertanian Kabupaten, dorong percepatan tanam mandiri benih padi di KT. Ngudi Raharjo, Ds. Poncosari, Kapanewon Srandakan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta varietas Situbagendit dan Inpari 32 seluas 10 ha, dari total 20 ha yang dialokasikan di Bantul dan Sleman.
“Percepatan tanam kegiatan ini merupakan langkah antisipasi amankan kesiapan benih padi gogo awal tahun 2026 menghadapi perubahan iklim kekeringan.
Pada kesempatan ini, Ladiyani Retno Widowati, Direktur Perbenihan sekaligus sebagai PJ LTT Padi Provinsi DIY menyampaikan bahwa, “Petani segera mengoptimalkan penanaman di musim kemarau basah ini untuk percepatan tanam setelah panen padi”.
“Benih punya peran penting dalam peningkatan produktivitas dan produksi hasil pertanian. Penggunaan benih yang tidak tepat, berakibat kerugian besar bagi petani, tutur Ladiyani.
Menghadapi musim kemarau panjang, Ladiyani menghimbau kepada petani agar melakukan penyesuaian penggunaan varietas tanaman yang sesuai yang tahan kekeringan seperti Inpago 13 Fortiz, Inpago 4, Inpago 5, Inpago 6, Inpago 7 (beras merah), Inpago 8, Inpago 9, Inpago 13, Segreng, Gamagora, Situbagendit, Inpari 11, Inpari 18, Inpari 19, Inpari 20, Inpari 38, Inpari 39, Inpari 40, Inpari 41, Inpari 42, Inpari 43, Inpari 46, Cisaat, IPB 9 G, Unsoed Parimas, Rindang 2 Agritan, Cibogo, Ciherang, Inpari 10, Inpari 13, Cakrabuana, dan Padjajaran.
Hal ini sesuai dengan arahan Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Yudi Sastro, bahwa “Kementerian Pertanian terus berkomitmen mendukung peningkatan produksi padi mendukung Swasembada Pangan, salah satunya kesiapan benih tahan kekeringan melalui kegiatan Mandiri Benih.
Pada kesempatan yang sama, secara simbolis dilakukan penyerahan bantuan benih sumber kegiatan mandiri benih varietas Situbagendit, dimana sesuai deskripsi varietas salah satu padi gogo yang cocok ditanam di lahan kering maupun sawah.
Kementan melalui Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memberikan bantuan berupa benih sumber, pupuk, pestisida dan peralatan pengemasan benih, tegas Ladiyani.
Tujuan kegiatan ini, meningkatkan kapasitas pemberdayakan petani setempat, agar dapat membuat benih insitu secara mandiri, berkelanjutan sehingga petani tidak perlu mendatangkan benih dari luar wilayah Bantul lagi, ucap Ladiyani.
Lebih lanjut Ladiyani berharap “Taksasi produksi calon benih padi ditargetkan minimal 4 ton GKP per hektar dengan asumsi jadi benih bersertifikat sekitar 2,5 – 3 ton per hektar”, sehingga berkontribusi memasok benih insitu di Kab. Bantul sendiri sekitar 25 - 30 ton, atau setara luasan 1.000-1200 ha”, ujar Ladiyani penuh optimis.
“Keuntungan petani memproduksi benih insitu, dapat menghemat ongkos kirim dan varietas adaptif sesuai spesifik lokasi”, imbuh Ladiyani.
Ladiyani berharap, “Petani serius memproduksi benih insitu, tidak lagi menjual padi berupa konsumsi namun berupa calon benih, karena harga jual berupa calon benih lebih menguntungkan, dibandingkan dengan konsumsi, tuturnya.




