PANDEGLANG, BANTEN – Memasuki bulan April 2026, wilayah Indonesia semakin mendekati kondisi El-Nino yang sudah diprediksi oleh BMKG sebelumnya, bahkan BMKG menyebutkan kemarau Tahun ini akan lebih Panjang dang lebih kering, sehingga dijuluki Godzilla El Nino. Namun pemerintah melalui Kementerian Pertanian sudah mempersiapkan kondisi tersebut. Akhir Maret 2026, Ditjen Tanaman Pangan sudah menyampaikan surat kepada Dinas Pertanian Provinsi dan Dinas terkait yang menangani bidang pertanian, terkait himbauan kewaspadaan kekeringan pada musim kemarau 2026.
Dari himbauan tersebut, beberapa Kabupaten di Indonesia sudah mulai meyiapkan diri untuk menghadapai kemarau 2026 tersebut. Sebagai langkah nyata menghadapi tantangan perubahan iklim, Kelompok Tani Tijaroh menggelar aksi gotong royong pembersihan saluran irigasi di Desa Alaswangi, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Senin (13/04/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari Gerakan Dampak Perubahan Iklim (Gernang DPI) untuk memastikan kelancaran distribusi air ke lahan pertanian.
Aksi lapangan ini dihadiri langsung oleh perwakilan Dinas Pertanian Provinsi Banten, tim POPT Kabupaten Pandeglang, serta jajaran penyuluh pertanian BPP Menes. Fokus utama kegiatan adalah mengangkat sedimentasi, gulma, dan sampah yang menghambat aliran air ke areal persawahan warga. Kasi Perlindungan Tanaman UPTD BPTPHP Dinas Pertanian Provinsi Banten, Taufik Dedi Purnama, menegaskan bahwa kesiapsiagaan petani adalah kunci. "Pemeliharaan saluran irigasi secara mandiri dan rutin adalah langkah konkret adaptasi iklim. Kelancaran air adalah faktor utama yang menentukan produktivitas tanaman pangan kita," ujar Taufik dalam sambutannya.
Senada dengan hal tersebut, Koordinator Tim Kabupaten (Kortikab) POPT Pandeglang, Ahmadi, mengapresiasi kekompakan para petani. Ia mengingatkan bahwa lingkungan yang bersih, termasuk sistem irigasi yang tertata, sangat berpengaruh pada efektivitas pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).
Sementara itu, Koordinator Penyuluh Pertanian BPP Menes, Oji Baroji, mengajak seluruh pihak untuk terus bersinergi. Beliau menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan mengenai pertanian adaptif agar petani tidak hanya bergantung pada pola lama, tetapi mampu merespons perubahan cuaca yang ekstrem.
Penyuluh Pertanian setempat, Ahmad Suryadi, juga menambahkan bahwa peran aktif petani dalam menjaga sarana produksi adalah investasi jangka panjang bagi keberlanjutan usaha tani di Desa Alaswangi.
Melalui aksi nyata ini, Kelompok Tani Tijaroh diharapkan menjadi inspirasi bagi kelompok tani lainnya di wilayah Banten untuk proaktif menjaga ketahanan pangan daerah di tengah dinamika perubahan iklim global. Kegiatan diakhiri dengan komitmen bersama untuk menjaga semangat gotong royong ini secara berkelanjutan.




