logo
10 Maret 2026Indef nilai stabilitas harga pangan dunia sinyal positif di Lebaran

Indef nilai stabilitas harga pangan dunia sinyal positif di Lebaran

Jakarta - ‎Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai kondisi pangan global saat ini menunjukkan sinyal stabilisasi yang dapat menjadi faktor positif menjelang Lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah di Indonesia.

‎Peneliti Pusat Pangan, Energi, dan Pembangunan Berkelanjutan Indef Afaqa Hudaya dalam diskusi daring dipantau dari Jakarta, Senin menyampaikan, harga pangan global saat ini memang belum sepenuhnya pulih, namun tekanan yang sebelumnya cukup tinggi mulai mereda seiring membaiknya kondisi pasokan di berbagai negara.

‎“Jika dilihat dari stabilisasi harga pangan global di tengah risiko ketahanan pangan, saat ini cukup persisten di mana memang harga pangan global itu sendiri memasuki fase stabilisasi,” ujarnya.

Dia menjelaskan, meredanya tekanan harga pangan global tidak terlepas dari membaiknya produksi pertanian di sejumlah negara, yang juga didukung oleh kondisi cuaca yang lebih baik sehingga meningkatkan output pertanian dunia.

Mengacu pada laporan Global Economic Prospects 2026 dari Bank Dunia, perbaikan produksi pertanian menjadi salah satu faktor yang memperkuat ketersediaan pasokan pangan global. Dengan demikian, pelemahan harga yang terjadi saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor produksi dan stok yang relatif memadai.

‎“Meredanya tekanan harga berlangsung dalam konteks pasokan global yang relatif memadai,” kata Afaqa.

Di sisi domestik, ia menilai dinamika harga pangan menjelang Ramadhan menunjukkan moderasi dibandingkan dengan volatilitas yang terjadi pada tahun sebelumnya.

Meskipun terdapat kenaikan pada beberapa komoditas seperti beras medium, gula, dan minyak goreng, kondisi tersebut masih berada dalam tren yang dapat diantisipasi melalui pengelolaan pasokan yang baik.

‎Afaqa juga menilai bahwa meningkatnya permintaan selama Ramadhan merupakan fenomena musiman yang wajar dalam siklus ekonomi tahunan.

Selain pangan, Afaqa turut menyoroti perkembangan pasar energi global yang dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Meski konflik berpotensi memicu volatilitas harga minyak, kondisi ini juga menjadi pengingat pentingnya memperkuat ketahanan energi nasional lewat diversifikasi sumber energi.

Selama satu dekade terakhir, neraca perdagangan migas Indonesia masih berada dalam posisi defisit. Pada akhir 2025, defisit migas tercatat 2,09 miliar dolar AS yang menunjukkan bahwa konsumsi energi nasional masih lebih tinggi dibandingkan kemampuan produksi domestik.‎

Namun di sisi lain, situasi tersebut juga mendorong urgensi pengembangan energi alternatif serta peningkatan efisiensi energi nasional.‎

Program bauran energi seperti biodiesel yang telah berjalan, menurutnya menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar.

 

ARTIKEL TERKAIT
Ditjen Tanaman Pangan Tampilkan Inovasi Varietas Unggul dan Produk Olahan pada PENAS XVII Gorontalo
21 Jun 2026

Ditjen Tanaman Pangan Tampilkan Inovasi Varietas...

Di PENAS 2026, Wapres Gibran Sebut Indonesia Kian Mandiri Pangan Berkat Petani dan Nelayan
20 Jun 2026

Di PENAS 2026, Wapres Gibran Sebut...

“Hadapi Kemarau, Kementan Genjot Tanam Padi dan Optimalkan Bantuan Pompa Air di Jawa Barat.”
18 Jun 2026

“Hadapi Kemarau, Kementan Genjot Tanam Padi...

Dongkrak Produksi Padi, Kementan dan Pemprov Jabar Siapkan Strategi Khusus Kejar Target LTT Juni 2026
05 Jun 2026

Dongkrak Produksi Padi, Kementan dan Pemprov...