Kementan Dorong Penyediaan Jagung Pangan untuk Industri
Indonesia menargetkan swasembada jagung pada 2026 dengan produksi diproyeksikan mencapai 18 juta ton pipilan kering, didukung peningkatan hasil panen 4,18% pada kuartal awal 2026. Berkat surplus dan stok carry over mencapai 4,5 juta ton dari 2025, pemerintah menghentikan impor jagung di 2026. Harga pembelian petani ditetapkan Rp5.500/kg untuk melindungi produsen. Selain untuk pakan ternak (ayam petelur dan pedaging), jagung juga diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri pangan domestik.
Pada 11 Februari 2025 – Direktur Hilirisasi Hasil Tanaman Pangan, Tiurmauli Silalahi mewakili Direktur Jenderal Tanaman Pangan bersama perwakilan Direktorat Serealia dan tim PT Tereos FKS Indonesia melakukan kunjungan ke PT Restu Agropro Jayamas di Kediri, Jawa Timur. Kunjungan ini dilaksanakan dalam rangka koordinasi penyediaan jagung pangan untuk mendukung kebutuhan industri pangan nasional. Ini merupakan tindaklanjut dari arahan bapak Menteri Pertanian (Andi Amran Sulaiman), yang tahun ini mencanangkan kegiatan jagung, bukan hanya untuk pakan, tapi juga untuk pangan. Beliau menambahkan, “saat kita juga sedang mengurangi impor jagung pangan”.
PT Restu Agropro Jayamas merupakan salah satu produsen benih jagung yang siap membantu penyediaan varietas jagung pangan serta memasok kebutuhan jagung pangan di Indonesia, khususnya untuk PT Tereos FKS Indonesia. Industri tersebut membutuhkan jagung dengan kandungan pati tinggi guna mendukung kebutuhan industri pangan sebesar 450.000 ton per tahun.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan meninjau fasilitas pabrik serta proses produksi benih jagung. Pada kesempatan tersebut, Direktur Hilirisasi Hasil Tanaman Pangan menyampaikan bahwa Kementerian Pertanian, khususnya Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, siap mendukung pemenuhan kebutuhan jagung pangan untuk industri pangan di Indonesia. “Saat ini Direktorat Hilirisasi Hasil Tanaman bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan telah melakukan sosialisasi dan menjalin kerja sama dengan beberapa provinsi sentra jagung guna memperkuat sinergi antara petani dan industri pangan,” ujar Tiurmauli Silalahi.
Dalam kesempatan terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Dr. Yudi Sastro, menegaskan bahwa pengembangan jagung pangan di Indonesia sangat dimungkinkan, didukung oleh ketersediaan teknologi pengolahan (processing) yang telah berkembang saat ini.Melalui penguatan kemitraan antara produsen benih, petani, dan industri, pemerintah optimistis kebutuhan jagung pangan nasional dapat terpenuhi secara berkelanjutan sekaligus mendorong peningkatan nilai tambah komoditas jagung dalam negeri.
_Humas TP_




