Jl. AUP No. 3 Pasar Minggu,
Jakarta Selatan 12520,
Provinsi DKI Jakarta

(021) 7824 669

ID EN
Logo

Kementerian Pertanian

Direktorat Jenderal
Tanaman Pangan

7

KEMENTAN RESPON CEPAT LAKUKAN PEMANTAUAN DAN PENANGANAN LAHAN KEKERINGAN DI AREAL PERSAWAHAN KAB. PANDEGLANG, PROVINSI BANTEN

Dampak fenomena El Nino yang terjadi di Musim Kering 2023 benar-benar menunjukkan efeknya, lahan pertanian di Provinsi Banten umumnya dilanda kekeringan sejak awal Bulan Mei 2023. Kab. Pandeglang menjadi salah satu kabupaten yang terdampak kekeringan secara terus menerus dan masih dirasakan oleh petani hingga saat ini. Tipe lahan yang umumnya merupakan lahan tadah hujan ditambah dengan mengeringnya beberapa titik sumber irigasi menjadi faktor utama kekeringan di lahan pertanian. Lalu diperburuk lagi dengan tidak adanya sumber air tanah, jikalau adapun sumber air asin yang tidak bisa digunakan untuk mengairi persawahan. Akibatnya, sejumlah lahan pertanian terpantau mengalami kekeringan akibat menipisnya suplai air ke lahan.


Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Kabupaten (Koortikab POPT) Pandeglang Provinsi Banten, Ahmadi menjelaskan kejadian kekeringan tak luput mempengaruhi lahan pertanian di Kawasan tersebut. Berdasarkan data per 1 September 2023, sebanyak 63,97% lahan telah pulih dari kekeringan ‘’Memang ada beberapa titik lahan yang mengalami kekeringan dikarenakan sumber air tanah tidak ada, kalaupun ada hanya air asin sehingga tidak bisa digunakan untuk pengairan sawah. Tetapi, alhamdulillah adanya kegiatan Gerakan Penanganan (Gernang) DPI dari Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan menjadikan sebagian lahan yang tadinya kering sudah pulih kembali akibat penanganan yang cepat. Saat ini fokus kami mempertahankan keadaan lahan agar tidak lebih buruk dan puso’’ jelas Ahmadi.


Kementerian Pertanian melalui Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan telah bergerak cepat melalukan Gerakan Penanganan DPI di lokasi terdampak kekeringan. Plt. Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Yudi Sastro mengatakan pihaknya akan terus mengawal ketat penanganan lahan yang terdampak kekeringan di Banten “Kami langsung turun ke lapangan dan bergerak cepat menangani lahan terdampak kekeringan di beberapa titik. Ada 4 poktan di Kab. Pandeglang yaitu Poktan Pelopor I, Poktan Pelopor II, Poktan Baruji I masing-masing 5 Ha dan Poktan Berkah Mandiri sebesar 20 Ha yang langsung melakukan Gerakan Penanganan DPI berupa pompanisasi” ujar Yudi. 


Lebih lanjut, Yudi menjelaskan tentang lokasi yang tidak ada sumber air akan dibuat 2 titik sumur pantek ‘’Terkait lokasi yang tidak ada sumber air seperti di Gapoktan Sumber Makmur Ds. Karangsari, Kec. Angsana, Kab. Pandeglang, berdasarkan kesepakatan gapoktan akan dibuat 2 titik sumur pantek untuk mengairi lahan kurang lebih 20 Ha dimana dana pembuatan sarana berasal dari kegiatan Gerakan Penanganan DPI” terang Yudi. Menurutnya kegiatan insidentil ini merupakan hal yang penting untuk dilakukan sebagai upaya pengamanan  tanaman pangan, “Lahan terkena kekeringan memiliki 4 kategori yaitu Ringan, Sedang, Berat dan Puso. Adanya sumber air yang dialirkan ke lahan terdampak kekeringan dapat membantu menghidrasi lahan sehingga kategori kekeringan tidak makin buruk” jelas Yudi.


Kementan terus memantau data laporan kekeringan dari petugas POPT. Data kekeringan yang dilaporkan secara real time akan mempercepat pengambilan keputusan sehingga meminimalisir resiko kehilangan. “Puso akibat kekeringan di Provinsi Banten pada bulan Musim Kemarau (MK) tahun ini masih lebih rendah dibandingkan dengan rerata 5 MK” jelas Yudi. “Kami telah melakukan beberapa langkah antisipasi dampak iklim ekstrim diantaranya dengan mapping wilayah rawan kekeringan, pemantauan rutin informasi BMKG sebagai Early Warning System, normalisasi saluran irigasi, pompanisasi dan mendaftarkan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP)”. Selain itu Yudi menambahkan pihaknya akan melakukan langkah penanganan di wilayah terdampak untuk optimalisasi pemulihan “Kami telah mengalokasikan kegiatan Gerakan Penanganan DPI untuk Provinsi Banten sekaligus mobilisasi pompa yang berada di BPTPH Provinsi Banten” sambung Yudi.


Senada dengan Yudi, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi mengatakan bahwa Kementan akan selalu siap membantu petani dalam menangani gangguan DPI di lahan persawahannya “Seluruh stakeholder pertanian siap untuk mengamankan produksi tanaman pangan dari gangguan DPI”, ungkap Suwandi. Gerakan Penanganan DPI menjadi bukti konkret komitmen Kementan dalam menjaga produksi tanaman pangan. “Resiliensi mesti diciptakan dari sekarang untuk menghadapi DPI yang berdampak besar terhadap sektor pertanian”, pungkas Suwandi.


Hal ini sejalan dengan instruksi Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo yang menekankan pentingnya kesiapsiagaan sektor pertanian dalam menghadapi kuatnya perubahan iklim global. Perubahan yang bukan hanya teori ataupun topik perdebatan para ilmuwan semata, sekarang ini perubahan sudah dirasakan hampir di semua sektor. Utamanya di sektor pertanian, yang diperkirakan akan terdampak sangat besar akibat Perubahan Iklim.

 

(Kontributor : Roscha Amellia, S.Si  dan Abriani Fensionita, S.P., M.Si.)

WhatsApp


Email


Jam Pelayanan

Hari Kerja
08:00 s/d 16:00