Jl. AUP No. 3 Pasar Minggu,
Jakarta Selatan 12520,
Provinsi DKI Jakarta

(021) 7824 669

ID EN
Logo

Kementerian Pertanian

Direktorat Jenderal
Tanaman Pangan

7

Budidaya Tanaman Sehat Solusi Keamanan dan Mutu Pangan

Keamanan dan Mutu Pangan menjadi salah satu aspek penting untuk mewujudkan sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas, serta menunjang masa depan yang lebih baik. Pangan menjadi tidak aman karena kontaminasi bahaya baik bahaya fisik (kerikil, pecahan kaca, logal dll); bahaya kimia (pestisida, pupuk kimia yang berlebihan, formalin, dll); dan bahaya biologi (bakteri, virus, jamur). Dampak mengkonsumsi pangan yang tidak aman dalam jangka pendek adalah keracunan yang ditandai dengan mual, muntah, diare, dan pusing, sedangkan dalam jangka panjang akan menyebabkan penyakit degenerativ (kanker). Bahaya pestisida pada pangan segar yang dikonsumsi dapat menyebabkan kanker, cacat kelahiran, dan merusak atau mengganggu sistem syaraf, endokrin, reproduktif dan kekebalan. Begitu pula pupuk, meski ditujukan untuk memberikan keuntungan bagi manusia, namun dampak dari kegiatan pemupukan pada tanah perlu diperhatikan. Hal ini khususnya pada penggunaan pupuk kimia. Jika dilakukan secara berlebihan, penggunaan pupuk kimia bisa menimbulkan dampak yang justru merusak kesuburan tanah itu sendiri dan bukan menjadikannya subur.

Pada umumnya tanaman tidak bisa menyerap 100% pupuk kimia. Selalu akan ada residu atau sisa. Sisa-sisa pupuk kimia yang tertinggal di dalam tanah ini, bila terkena air akan mengikat tanah seperti lem/semen. Setelah kering, tanah akan lengket satu dengan lain (alias tidak gembur lagi), dan keras. Selain keras, tanah juga menjadi masam. Kondisi ini membuat organisme-organisme pembentuk unsur hara (organisme penyubur tanah) menjadi mati atau berkurang populasinya. Beberapa binatang yang menggemburkan tanah seperti cacing tidak mampu hidup di kawasan tersebut dan kehilangan unsur alamiahnya. Bila ini terjadi, maka tanah tidak bisa menyediakan makanan secara mandiri lagi, dan akhirnya menjadi sangat tergantung pada pupuk tambahan, khususnya pupuk kimia.

Penggunaan pupuk dan pestisida juga beresiko menghasilkan residu logam berat pada tanaman dan tanah, dan ini juga akan mejadi bahaya tersendiri jika melewati ambang batas. Pada dasarnya logam berat ini mencemari tanah, air, dan udara. Logam berat yang menumpuk dalam tubuh merupakan salah satu penyebab penyakit degenaratif terutama kanker.Adapun beberapa logam berat yg beracun dalam tubuh manusia antara lain arsen (As), kadmium (Cd), tembaga (Cu), timbal (Pb), merkuri (Hg).

Tantangan utama dalam upaya pengamanan produksi adalah gangguan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Sejauh ini pengamanan dari OPT biasanya  menggunakan pestisida kimia dan kadar penggunaannya relatif tinggi di tingkat petani. Hal tersebut tentunya dapat menimbulkan dampak pada kesehatan lingkungan, terganggunya keseimbangan agroekosistem dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kesehatan manusia. Tanah sebagai bagian dari agroekosistem tentunya harus terawat sebaik mungkin, agar biota tanah dapat hidup dengan baik dan dapat menjalankan fungsinya dalam menyeimbangkan agroeksistem below ground (bawah tanah). Kenyataannya saat ini penggunaan bahan-bahan alami seperti pupuk organik (baik padat maupun cair), pupuk hayati, Mikrooorganisme Lokal (MoL), pestisida nabati dan agensia pengendali hayati meskipun sudah banyak dilakukan oleh petani kita, namun pergerakannya belum semasif penggunaan bahan-bahan kimiawi.

Dalam rangka meminimalisir dampak penggunaaan pupuk dan pestisida kimia, pada tahun 2022 ini Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan melaksanakan program Budidaya Tanaman Sehat (BTS). Budidaya Tanaman Sehat merupakan metode budidaya yang diadopsi dari salah satu prinsip Pengendalian Hama Terpadu, dimana dalam membudidayakan tanamannya  memadukan semua tehnologi budidaya berbasis ramah lingkungan sehingga dihasilkan tanaman yang sehat, lingkungan yang lestari dan produk yang aman konsumsi. Berawal dari produk aman konsumsi ini maka akan menjadi makanan yang sehat yang mendukung pola hidup sehat generasi milenial kita. Budidaya Tanaman Sehat dilaksanakan dengan mengoptimalkan peran seluruh komponen agroekosistem seperti musuh alami dan mikroorganisme menguntungkan yang berasosiasi dengan tanaman sehingga kesehatan tanaman, tanah, dan lingkungan akan semakin meningkat. Hal tersebut diharapkan secara signikan akan semakin mengurangi penggunaan bahan-bahan kimia sintetis yang dapat mencemari lingkungan dan meninggalkan residu pada produk hasil pertanian.

1.       Penggunaan benih Padi Inbrida

Penggunaan varietas unggul atau benih terverifikasi yang resistan terhadap hama, penyakit dan stress lingkungan merupakan langkah awal dari rangkaian proses budidaya tanaman sehat. Penanaman varietas unggul atau benih terverifikasi yang sesuai dengan kondisi lahan akan meningkatkan jumlah tanaman yang sehat dan memiliki daya proteksi yang baik (FAO, 2022). Benih padi varietas unggul bersertifikat minimal kelas benih sebar (BR/label biru) dengan standar mutu sesuai peraturan yang berlaku serta memiliki spesifikasi teknis mutu benih padi. Benih padi sebelum disemai diberi perlakuan perendaman dengan pupuk hayati sesuai anjuran. Benih yang akan ditanam dipilih benih yang lebih tahan/toleran terhadap serangan Wereng Batang Coklat, dan BLB/Blast. Setelah berumur 15 – 25 hari setelah sebar, bibit ditanam dengan jarak tanam yang dianjurkan menggunakan system tanaman jajar legowo 2:1 atau 4:1 atau spesifik lokasi.

2.       Perbaikan kesuburan tanah

Fertilitas dan tanah yang sehat sangat penting Tanah yang sehat juga membantu mengurangi polusi tanah, air, dan udara sehingga kualitas lingkungan meningkat (FAO, 2022). Perbaikan kesuburan tanah dapat dilakukan dengan penggunaan pupuk organik, kapur pertanian dan pembenah tanah. Penggunaan pupuk organik dimaksudkan untuk perbaikan fisik dan kimia tanah guna peningkatan kesuburan tanah. Pemberian kapur pertanian (dolomit) pada lahan sawah dimaksudkan untuk meningkatkan pH tanah menjadi netral guna peningkatan struktur tanah. Dengan pH tanah yang netral dan adanya pupuk organik, maka akan meningkatkan ketersediaan unsur hara dalam tanah, merangsang populasi dan aktifitas mikroorganisme tanah, bahkan dapat menetralisir senyawa-senyawa beracun baik organik maupun anorganik. Demikian pula dengan pembenah tanah organik yang mengandung bahan organik dan beberapa mineral alam yang berfungsi memperbaiki kesehatan dan kesuburan tanah. Pembenah tanah mengandung bahan humat dan C organik serta bahan lainnya yang dapat meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) dalam tanah sehingga unsur hara dalam tanah dapat terserap secara optimal, dan menstimulasi mikroorganisme tanah yang bermanfaat bagi tanaman.

3.       Pengolahan tanah yang sempurna

Pengolahan tanah dan sanitasi lahan juga termasuk hal penting dalam penerapan budidaya tanaman sehat (FAO, 2022). Pengolahan tanah dilakukan secara bertahap dengan waktu kisaran antara 15 – 21 hari agar diperoleh lapisan tanah yang siap ditanami. Tahap pertama adalah pembalikan lapisan tanah agar terjadi proses fermentasi sisa tanaman di dalam tanah. Tahap kedua, proses penggemburan atau proses pencampuran bahan organik dengan tanah hingga bahan menyatu dengan lapisan olah tanah dan membentuk lumpur. Pada tahapan ini diaplikasikan pupuk organik dan kapur pertanian (dolomit), dan dibiarkan sekitar 7 hari. Tahap ketiga, proses perataan permukaan tanah agar lapisan tanah benar-benar siap ditanami padi pada saat tanam dilaksanakan. Pembenah tanah organik padat diaplikasikan sebelum tanam atau sebagai pupuk dasar.

4.       Penanaman Refugia

Refugia adalah mikrohabitat buatan yang di tanam dalam lahan pertanian sebagai salah satu upaya konservasi musuh alami terutama parasitoid dan predator di pertanaman. Fungsi refugia adalah tempat berlindung sementara dan penyedia tepungsari makanan alternatif berbagai musuh alami. Refugia yang ditanam adalah yang berbunga, seperti tanaman bunga matahari, kenikir dan bunga kertas (zinnia) karena mempunyai warna bunga yang mencolok dan diminati serangga musuh alami.

5.       Pengendaliaan Hama dan Penyakit

Pengamatan di pertanaman secara rutin dilakukan, agar keberadaan OPT diketahui sejak awal. Aplikasi Agensia Hayati atau pestisida biologi, dianjurkan pada saat tanaman berumur 2, 4 dan 6 minggu setelah tanam atau pada saat ditemukan populasi OPT. Pengendalian OPT dilakukan sesuai dengan Prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Jika populasi masih rendah, aplikasi pengendali OPT menggunakan Agensia Hayati/Pestisida nabati/Pestisida biologi. Jika populasi sudah diatas ambang pengendalian, dapat digunakan insektisida kimia secara bijaksana. Penyiangan gulma dilakukan sesuai dengan kondisi pertanaman.

 

* Penulis Mochammad Irfan Soleh, S. Si, MP (PMHP Ahli Muda)

WhatsApp


Email


Jam Pelayanan

Hari Kerja
08:00 s/d 16:00