Rilis Kementan, 20 Juli 2026
Nomor: B-559/HM.160/7/07/2026
Kementan Gerak Cepat Hadapi El Nino, Rembug Cai Selamatkan 1.053 Hektare Sawah di Subang
SUBANG – Kementerian Pertanian (Kementan) bergerak cepat memperkuat langkah mitigasi menghadapi dampak fenomena El Nino yang mulai menguat pada pertengahan Juli 2026. Upaya ini dilakukan untuk menjaga ketersediaan air irigasi, melindungi lahan pertanian dari ancaman kekeringan, serta memastikan produksi pangan nasional tetap terjaga.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa seluruh jajaran Kementan harus sigap menghadapi berbagai potensi gangguan produksi akibat perubahan iklim. Menurutnya, setiap persoalan di lapangan harus ditangani secara cepat agar tidak berkembang menjadi gagal panen.
"Kita tidak boleh terlambat. Begitu ada ancaman kekeringan, banjir, atau serangan organisme pengganggu tanaman, seluruh jajaran harus bergerak cepat melakukan mitigasi. Produksi harus kita amankan karena menyangkut ketahanan pangan nasional," tegas Mentan Amran.
Sejalan dengan arahan tersebut, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan bersama Pemerintah Kabupaten Subang menggelar Musyawarah Penanganan Kekeringan Lahan Persawahan atau Rembug Cai pada Rabu (15/7). Kegiatan ini difokuskan untuk menangani tiga wilayah terdampak, yakni Kecamatan Compreng, Kecamatan Pusakajaya, dan Kecamatan Pusakanagara.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena El Nino menyebabkan penurunan curah hujan secara signifikan sehingga memicu musim kemarau yang lebih kering di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Pulau Jawa. Kondisi tersebut mulai berdampak terhadap sektor pertanian. Laporan sementara petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) mencatat lahan sawah padi yang terdampak kekeringan di Kabupaten Subang mencapai 1.053 hektare.
Pertemuan strategis tersebut dihadiri oleh unsur Direktorat Pelindungan Tanaman Kementan, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum Provinsi Jawa Barat, Dinas Pertanian Kabupaten Subang, BPBD Subang, Perum Jasa Tirta II Subang, jajaran Muspika, kepala desa, P3A/Mitra Cai, kelompok tani, serta perwakilan petani.
Direktur Pelindungan Tanaman Pangan Rachmat menegaskan bahwa penanganan kekeringan harus dilakukan secara terpadu dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan agar distribusi air tetap terjaga.
"Mitigasi kekeringan harus dilakukan secara terintegrasi dan cepat demi mengamankan produksi tanaman pangan nasional. Kolaborasi di lapangan menjadi kunci utama penanganan krisis air ini," ujarnya.
Melalui Rembug Cai tersebut, seluruh pihak menyepakati enam langkah strategis penanganan kekeringan, yakni pengaturan gilir air secara adil oleh PJT II, patroli bersama untuk mencegah pengambilan air secara ilegal, optimalisasi pasokan air dari hulu, penataan kembali jadwal tanam dari wilayah hulu hingga hilir, percepatan fasilitasi pompa air melalui jalur berjenjang, serta usulan pembangunan tampungan limpasan (embung karet) dan normalisasi saluran irigasi sebagai solusi jangka panjang.
Melalui langkah-langkah tersebut, Kementan berharap pasokan air irigasi di wilayah terdampak dapat segera pulih sehingga risiko puso dapat ditekan dan produktivitas pertanian tetap terjaga selama musim kemarau 2026.




