logo
28 Juli 2026Kementan Mitigasi Dampak El Nino, Gerak Cepat Pastikan Produksi Beras Tetap Terjaga

Kementan Mitigasi Dampak El Nino, Gerak Cepat Pastikan Produksi Beras Tetap Terjaga

Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) bergerak cepat melakukan berbagai langkah mitigasi menghadapi potensi dampak El Nino pada musim kemarau 2026. Melalui sistem peringatan dini, pemetaan wilayah rawan kekeringan, optimalisasi sumber daya air, hingga penguatan koordinasi lintas sektor, Kementan terus bergerak untuk memastikan produksi beras nasional tetap terjaga guna mendukung target swasembada pangan.

Pelaksana Harian (Plh.) Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Tin Latifah, mengatakan Kementerian Pertanian telah menyiapkan strategi yang terintegrasi untuk meminimalkan dampak kekeringan terhadap sektor pertanian.

“Mitigasi menjadi kunci dalam menghadapi potensi dampak El Nino. Karena itu, Kementerian Pertanian bergerak cepat dengan membangun sistem peringatan dini, memetakan wilayah rawan kekeringan, mengoptimalkan sumber-sumber air, serta memperkuat koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan agar produksi padi tetap terjaga,” ujar Tin.

Menurutnya, langkah awal yang dilakukan adalah membangun early warning system atau sistem peringatan dini sebagai dasar pengambilan keputusan dalam menghadapi ancaman kekeringan. Sistem tersebut diwujudkan melalui Surat Menteri Pertanian kepada seluruh gubernur di Indonesia serta Surat Direktur Jenderal Tanaman Pangan kepada Kepala Dinas Pertanian dan Penanggung Jawab Swasembada Pangan mengenai kewaspadaan kekeringan pada musim kemarau 2026.

Surat tersebut diharapkan menjadi acuan bagi pemerintah daerah dan petani dalam menentukan waktu tanam yang sesuai dengan ketersediaan air, membantu pengelola bendungan dan jaringan irigasi mengatur distribusi air secara lebih efektif, serta memperkuat pemantauan kondisi kekeringan melalui pemanfaatan teknologi survei, radar, dan satelit.

Selain itu, Kementan bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan pemerintah daerah juga melakukan pemetaan wilayah pertanian yang berpotensi terdampak kekeringan, sekaligus menganalisis lokasi berdasarkan program yang telah maupun akan dialokasikan pada Tahun Anggaran 2026.

Berbagai sumber air alternatif juga terus diidentifikasi, mulai dari bendungan, jaringan irigasi, sungai, mata air hingga air tanah. Potensi tersebut dioptimalkan melalui pemanfaatan embung, sumur dangkal, sumur bor, pompanisasi, perpipaan, dan irigasi perpompaan guna memastikan pasokan air bagi lahan pertanian selama musim kemarau.

“Kami juga melakukan mobilisasi pompa air ke daerah-daerah rawan, normalisasi saluran irigasi, serta pembangunan pipanisasi untuk mengalirkan air dari sumber air terdekat menuju lahan pertanian. Dengan langkah cepat ini, kami berharap dampak kekeringan dapat ditekan semaksimal mungkin,” jelas Tin.

Di samping itu, Kementan terus memperkuat koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Dinas Pekerjaan Umum, Badan Penanggulangan Bencana, dan berbagai instansi terkait dalam penanganan kekeringan. 

Berdasarkan data per 24 Juli 2026, luas pertanaman padi yang terdampak kekeringan secara nasional selama periode Januari–Juli 2026 tercatat mencapai 44.694 hektare, dengan luas gagal panen sebesar 12.304 hektare.

Di Pulau Jawa, Provinsi Jawa Barat menjadi wilayah dengan luas pertanaman padi terdampak kekeringan terbesar, yakni 4.794 hektare, namun hingga saat ini belum terdapat lahan yang mengalami gagal panen.

“Untuk lahan yang mengalami gagal panen, pemerintah akan menyiapkan bantuan benih serta mengawal proses klaim Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) bagi petani yang terdampak,” ujarnya. 

Meski menghadapi musim kemarau, Kementerian Pertanian tetap optimistis produksi padi nasional berada pada jalur yang positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), potensi luas panen padi pada Juli 2026 diproyeksikan mencapai sekitar 0,93 juta hektare, sedangkan secara kumulatif sepanjang Januari hingga Juli 2026 diperkirakan mencapai 7,20 juta hektare.

“Data potensi panen menunjukkan bahwa produksi nasional masih terjaga. Dengan langkah mitigasi yang dilakukan secara cepat, terukur, dan kolaboratif, kami optimistis target produksi beras nasional tetap dapat dipertahankan untuk mendukung swasembada pangan,” tegas Tin.

Optimisme tersebut juga diperkuat oleh proyeksi Food and Agriculture Organization (FAO) dalam Food Outlook edisi Juni 2026 yang memperkirakan produksi beras Indonesia pada musim 2026/2027 mencapai 38,6 juta ton. Proyeksi tersebut menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar di Asia Tenggara dan terbesar keempat di dunia, di tengah tren penurunan produksi beras global. (*)

ARTIKEL TERKAIT
Ditjen Tanaman Pangan Perkuat Percepatan Tanam Pajale di Jawa Barat
10 Okt 2026

Ditjen Tanaman Pangan Perkuat Percepatan Tanam...

Dirjen Tanaman Pangan Dampingi Anggota BAKN DPR RI Kunjungi Karwang, Dalam rangka Mendorong Perbaikan Tata Kelola Pangan Nasional.
07 Okt 2026

Dirjen Tanaman Pangan Dampingi Anggota BAKN...

Menteri Pertanian Amran Sampaikan Duka Cita Mendalam atas Insiden Penembakan di Papua Pegunungan
10 Sep 2026

Menteri Pertanian Amran Sampaikan Duka Cita...

Mentan Amran Sulaiman sidak ke areal persawahan di Kabupaten Karawang, Jawa Barat
31 Agt 2026

Mentan Amran Sulaiman sidak ke areal...